Minggu, 12 Januari 2014

Ritual 2014



Penghujung 2012, orangtua mengajak merayakan pergantian tahun di kampung mamak, Tigalingga. Itu ritual tahunan yang dilakukan. Jika ditempuh dengan mobil, butuh waktu 4 jam—5 jam dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Namun, saat itu saya bersikeras untuk merayakan pergantian tahun dengan cara dan situasi berbeda.

Itu pertama kalinya saya merayakan pergantian tahun tak bersama orangtua. Cukup sulit untuk mendapatkan SIM (surat izin mendaki) gunung dari orangtua, apalagi bertepatan dengan ritual yang tahunan.

Dapat izin atau tak, yang terpenting  saya sudah pamit dan minta izin pada orangtua. Batin berkata, “Kan masih ada waktu tahun depan untuk pulang kampung dan bermaaf-maafan.”

Mendaki Gunung Sinabung tetap saya lakukan. Menikmati kembang api dari Danau Lau Kawar. Ada yang menembakan kembang api ke arah gunung. Ada pula yang mengarahkan ke langit yang berada di atas danau.

Sesekali permukaan air danau berubah warna. Merah. Hijau. Kuning. Saya dapat melihat kembang api di langit dan permukaan air. Semburat kembang api kembar mengajak penikmat tersenyum lebar.

Mencari handphone dan camera untuk mengabadikan semburat bercahaya itu. Sembari menikmati warna-warni, saya menceritakan target-target yang dilakukan. Optimis target pasti tercapai.
Bila target utama tak tercapai, saya telah memasang target alternatif.

***


Bilik Kayu Putih "My Home Sweet Home'"

Ritual perayaan pergantian tahun 2013 ke 2014 sangat berbeda dengan ritual dari tahun sebelumnya. 

Ini yang kedua kalinya saya merayakan pergantian tahun tak bersama kedua orang tua, adik-adik, serta keluarga besar dari bapak dan mamak.

2014. Suara percikan kembang api yang ditembakan ke langit kian ramai berhutan, terkhusus jelang menit-menit pergantian tahun. Bak suara senapan yang saling bersahutan.

31 Desember 2013 malam, teman sekos mengajak keluar untuk melewati detik-detik pergantian tahun di bawah langit Jakarta yang diguyur hujan sedari subuh hingga magrib.

Malam ini, saya teringat dengan setahun silam. Berjaket tebal, sesuka hati mengisi paru-paru dengan udara segar dari pepohonan di kaki Gunung Sinabung.

Bercerita ngalor-ngidul tentang impian. 

Target. 

Harapan baru, demi hidup yang lebih baik.

Kegagahan Gunung Sinabung dan keindahan Danau Lau Kawar menjadi saksi atas target-target serta cita-cita hendak diraih untuk 2013. Ada yang tercapai dan ada yang tak.

Menjadi manusia berkualitas, berkecukupan, sehat dan bahagia sudah cukup bagiku. Meski tak pernah berharap hidup di Jakarta, tapi saya mengira ini mungkin salah satu jalan untuk meraih impian.

Duduk di kamar kos, ditemani Laptop. Menikmati pergantian tahun dengan musik piano sonata Mozart.

Bagi saya, ini adalah waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Setelah melewati setahun yang lebih banyak berdialog dan mendengar manusia lain. Saya akan bermonolog. Semoga saya tak lupa cara bermonolog.


Sabtu, 07 September 2013

Lampu Aladin Ala Bank Indonesia...



Bak lampu ajaib Aladin yang siap memenuhi permintaan siapapun. Mengabulkan keinginan siapapun. Namun bukan tanpa tujuan. Lampu Aladin mengabulkan permintaan tuannya karena menjalankan tugasnya.

Lampu Aladin siap menunjukkan kemampuan yang dimiliki kepada tuannya. Itu adalah nilai lebih yang sampai kini selalu  dikenang oleh banyak orang. Tak heran, lampu Aladin selalu diperebutkan penyamun. Lampu tak berkuping tapi bisa mendengar.

Tak heran, lampu tersebut diincar. Apapun yang diinginkan selalu dikabulkan. Ingin punya emas, uang banyak, istana di langit sampai menjadi penguasa pun bakal dikabulkan.

Baik orang miskin maupun kaya, ingin mengadukan nasib dan menyampaikan kepentingannya pada lampu Aladin.

Kini lampu Aladin ada di Indonesia. Bank Indonesia kini telah mengabulkan permintaan kalangan elit pengusaha yang ingin dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

Apa daya, Bank Indonesia sudah jor-joran dan menunjukkan aksi dengan menaikkan BI Rate sebesar 125 bps selama 2 bulan terakhir.


Pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) selama 2013 (%)

BI Rate sudah bertengger pada 7%. Aktornya adalah pelaku pasar. Walau sudah mengabulkan permintaan sebagian pelaku pasar, tapi orang lain mempertanyakan alasan Bank Indonesia yang mengabulkan permintaan itu.

Apakah mereka satu dari deposan besar yang menginginkan bunga tinggi?

Dia yang berkantong tebal menekankan, give more and we will stay.

Ada yang bilang, untuk selamatkan dana-dana agar tak lari ke luar negeri. Tapi ada yang bilang, mungkin kenaikan BI Rate, karena kepanikan.

Ada yang bertanya, kenapa? Apa tak ada solusi lain? Ada yang katakan, sudah seharusnya! Solusi jangka pendek harus ada. Bisiknya, inflasi masih tinggi. Berjuang selamatkan rupiah, bujuk yang lain.

Setiap kebijakan pasti ada konsekuensinnya. Tapi sayub-sayub dari seberang ada yang berteriak, siapa yang hendak diselamat? Siapa menyelamatkan apa? Apa yang selamatkan siapa?

Mungkin teriakan yang terdengar samar, hanya ingin juga diselamatkan. Namun malang, BI belum bisa mengabulkan nasib mereka. Masyarakat kecil bertanya, siapa yang menyelamatkan siapa?

Bankir mulai mengerutkan jidat. Debitur sipemberi keuntungan, harus dijaga. Tidak ingin gagal bayar. Sembari itu, bankir pun mulai memikirkan nasibnya sendiri di tengah likuiditas yang mengetat.

Bak menelan buah simalakama. Namun, Bank Indonesia harus menjaga fundamental ekonomi dan stabilkan keadaan pasar.

Ekonom mulai memprediksikan dengan kenaikan BI Rate, maka inflasi dapat direm bersama ekspektasinya. Intinya adalah nilai rupiah.

Rupiah akan lebih menarik dan atraktif setelah BI Rate naik. Sembari berharap, kepercayaan pasar akan kembali lagi. Dan yang  tak kalah  penting juga adalah menjaga cadangan devisa (cadev) yang sudah bertengger di angka US$92,67 miliar.

Ada yang bertanya, kenapa harus mengorbankan perbankan? Apakah empat paket kebijakan yang baru saja dikeluarkan pemerintah masih kurang mampu mengatasi kondisi makro?

Saya jadi teringat dengan diskusi yang bertema Peluang Investasi di Indonesia. Acara itu menghadirkan CEO MNC Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofyan Wanandi, Ekonom Danareksa Purbaya dan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi A. Johansyah.

Debat ringan yang cukup sengit, tampak membuat Difi sesekali tertunduk. Bahunya naik turun. Menarik nafas dalam. Kalangan pengusaha menilai Bank Indonesia hanya sebatas reaktif dan belum responsif.

Tawaran dari pengusaha, menaikan BI Rate. Difi masih tak menyangka bahwa sebagian pengusaha ternyata meminta BI Rate naik. Diskusi itu diadakan sehari sebelum Rapat Dewan Gubernur.

Alhasilnya, sikap responsif kini sudah dilakukan BI. Bank Indonesia sudah mendengar langsung permintaan pengusaha dan mengabulkannya. Minta dan diberi. Lampu Aladin yang cukup mujarab bukan.

Lalu, pasar akan minta apa lagi ke Bank Indonesia?


Selasa, 28 Mei 2013

Rimbun Rindu #KayuHangat



Langit mengadu
Rintik pertama hadir usai sujud

Aroma rintik selalu segarkan raga
Lelapkan mata sejukkan jiwa
Guyon khayak menggoda rindu
Tempias bungkam gelora sendu

Ini adalah malam pertama mendengar cerita hujan dari #KayuHangat. Masih tetap terjaga.

Rintik-rintik berlomba jatuh. Ada yang setitik. Jatuh ke tanah, dedaunan, nisan kuburan, parit maupun genting rumah. Tetesan itu menjadi butiran-butiran yang seper sekian lebih kecil.

#KayuHangat nama ruang 2x3 meter. Ia selalu melindungiku. Nyaman. Tak hendak rasa hati duduk ataupun baring berjam-jam. Sendiri dalam ruangan tak baik.

Sendiri. Sesekali bersendagurau dengan imajinasi. Mengingat senyum mereka. Sesekali mata melirik jam tangan, mengingat kebiasaan yang dilakukan pada waktu itu. Sesekali bertanya dalam hati, apa yang dilakukan mereka saat ini.

Lipatan isi kepala membuat bibir tersenyum kecil mengenang rumah bercat putih yang selalu ramai walau cinderela dan kereta kudanya berubah.

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya..


Lembaran rindu itu harus kulipat lamat-lamat, kecil. Berdamai dengan diri sendiri. Bunda pernah bilang jangan terjebak. Ayah pernah bilang jangan terlena.

"Semua orang punya tangan dan kepala. Silahkan tentukan pilihan sendiri, jangan sampai menyesal kelak."

Masih teringat jelas wajah sang pemberi nasihat, sebelum burung besi membawaku singgah di #KayuHangat.


Ini hanya tempat persinggahan. Masih banyak di luar dari daerah ini, di luar dari pikiranku menantikan jejakku. Malam ini aku akan melipat lembaran rindu itu pelan-pelan, hingga lembar yang lebar menjadi kecil, kecil, kecil dan semakin mengecil.

Bentuknya kini hampir satu ruas kelingkingku. Bak peracik obat, menghaluskan pil dan kapsul menggunakan mortir dan stamper. Racikan dibagi sama rata di atas beberapa kertas. Dilipat.

Kelak ia akan jadi penawar dan kekuatan..
Kusimpan rapi...


Jumat, 03 Mei 2013

Kembalikan Tubuh Suami Saya...

WARTAWAN muda ini tidak tahu bahwa itu adalah hari terakhir untuk menatap lamat-lamat mata istri dan memeluk tubuh putranya. Ia hanya tahu kebenaran harus diketahui oleh masyarakat. Kebenaran. Namun anaknya, Evan belum tahu banyak apa itu kebenaran. Evan belum tahu persis akan kemana ayahnya pergi. Ia tahu bahwa ayahnya akan bekerja. Bekerja. Pergi pagi dan pulang kembali pada hari yang sama.

Entah kenapa hari sebelum keberangkatan Gregory Jhon Shackleton untuk meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste, yang kala itu masih bernama Timor Timur menjadi hari yang tidak terlupakan bagi istrinya, Shirey Shackleton.
 
“Bila saya tertangkap, kalau saya dimasukkan ke penjara Indonesia, bila harus menjual rumah. Juallah.” Shirey mengganguk.

Selasa, 15 Januari 2013

Andai Ayahku Seorang Dewa Bumi


Bumi. Ini adalah hunian kita. Pencipta berpesan, agar kita berkuasa atas segala ciptaan-Nya, menjaga.

Entah kenapa telingah mulai risih mendengar jeritan-jeritan. Kalut. Terlalu penuh dengan nista di bumi ini. Layakkah aku meminta Dewa Bumi menjadi ayahku. 

Satu permohonanku kepada ayah bila ia menjadi Dewa Bumi. Engkau berkuasa atas tanah.

“Tanah?”

Iya tanah yah…

“Kenapa?”

Selama ini ayah tidak mengetahui sudah berapa ratus juta nyawa yang (sengaja di) hilang mempertahannya tanahnya. Bahkan mereka mati di atas tanahnya sendiri yah.

“Lalu?”

Lalu yang bukan pemiliknya dibela oleh orang-orang besar itu yah! Mereka dibiarkan memiliki tanah, berpesta, meraih hasil dan menghilangkan jejak pemilik sesungguhnya dengan tanah juga. Itu juga demi angka!

“Apa yang dapat ayah perbuat?”

Keadilan!

Dibalik Narasi Sumatera


Bertemu pemuda-pemuda Sumatera ibarat bertemu saudara kandung pernah hilang. Tiada rasa sungkan dalam mengungkapkan perasaan, baik kisah percintaan, ekonomi,perkuliahan bahkan keluarga. Setiap pertemuan demi pertemuan selalu dikemas dalam tawa walau sang pencerita dalam kelam masalah. Bagian tersebut adalah bagian yang sangat saya sukai saat berbagi kisah kepada pemuda se-Sumatera?

“Panjang, Dalam dan Terasa” telah mempertemukan 20 pemuda se-Sumatera. Ini jua kata kunci penghilang stress saat pertemuan ditaja.



Selasa, 11 Desember 2012

Kunjungan ke War Memorial, Canberra



Delapan wartawan telah melewati penerbangan Melbourne-Canberra selama 55 menit. Mereka paling sedikit membawa dua tas untuk persiapan selama tujuh hari.

Keberangkatan ke Canberra dipandu oleh wanita yang berambut coklat berbaju hitam putih dan tas coklat di selempangkan di bahu kanannya. Deborah Muir namanya.

“One, two, three……Eight. Okay,” ucapnya saat berada sembari menghitung jumlah fellow.
Deb selalu menghitung jumlah peserta, terutama bila ada peserta usai menyebrangi jalan, berjalan dikeramaian dan persimpangan. Entah berapa Deb mengucapkan angka satu sampai delapan. Untungnya dia lebih tinggi dari kami semua, jadi dia tak perlu jinjit sewaktu menghitung kami.

Berbekal semangat, pengalaman, rasa ingin tahu, maka naluri jurnalis kami kembali berkobar. Sesampai melewati proses pemeriksaan bandara yang cukup menyita waktu untuk membongkar tas, akhirnya rasa itu terbayar sudah sesampai di Canberra.

Usai menitipkan barang-barang di hotel kami langsung bergegas mencari makan siang. Saat makan siang pun Deb tak lupa untuk menghitung jumlah kami. Australian War Memorial adalah tujuan berikutnya. Sesampai disana kami sudah melihat gedung War Memorial yang saling berhadapan dengan Old Parliament House.

Setelah menatap lamat-lamat ke Old Parliament House, seketika itu saya tersadar bahwa ada ratusan kursi putih yang berbaris rapi menghadap ratusan karangan bunga. Pada karangan bunga terdapat nama negara.  Ada karangan bunga dari Negara Indonesia tempat kelahiran saya, ada dari Bosnia, Timor Leste, Mexico, Arab Saudi, Malaysia dan masih banyak ratusan karangan bunga. Dan karangan yang paling mungil adalah karangan bunga dari siswa sekolah dasar.
“Their name liveth for everymore,”terukir di atas batu yang dipenuhi karangan bunga.


Saat masuk ke dalam gedung War Memorial, saya benar-benar disuguhkan dengan atmosfer tahun 1800-an. Foto, patung, pakaian para militer yang berjuang, tongkat, serta peralatan makan hingga perang. Gedung Austalian War Memorial ini dibuka pada 1941 yang terdiri dari tiga bagian: Area Commemorative (kuil) termasuk Hall of Memory dengan Makam Prajurit Australia diketahui, galeri Memorial ini (museum) dan Pusat Penelitian (catatan). Memorial ini juga memiliki Sculpture Garden luar ruangan. Memorial saat ini buka dari 10 sampai 5 sore.


Two Light horse signaller outside a redoubt in the Sinai Desert, 1918

Salah satu foto yang membuat saya larut adalah dua orang tentara yang duduk di daerah Sinai. Mereka mengenakan celana pendek, kaos kaki setinggi siku kaki, hanya topi sebagai pelindung kepala mereka. Alat tulis dan kertas pada tangan merekalah yang membuat saya menitikan air mata.

Seperti mereka sedang melakukan komunikasi jarak jauh. Duduk diatas pasir tandus. Kawat duri yang berada di belakang mereka membuat keadaan semakin mencekam bagi saya. Saya sempat berbicara dalam batin saya.

“Apa mampu saya melewati masa yang telah dilewati oleh mereka yang telah tiada. Suara tembakan. Darah. Mayat. Gurun. Seketika entah kenapa tiba-tiba saja saya berfikir, ini akan terjadi bila saya meliput perang. Mau tidak mau harus mau dan mampu!”
Mereka yang berada namanya terukir di War Memorial ini adalah pahlawan yang takkan pernah dilupakan sekaligus korban perang. Saat melihat seisi War Memorial, saya berpapasan dengan seorang fellow dari West Papua, Yermias Degei ia mengatakan peperangan harus segera dihentikan.

“Stop peperangan! Mereka ini adalah bukti dari korban perang! Stop penindasan! Stop penjajahan!”

Benar yang disampaikan oleh Yermias, entah berapa kerugian materi yang hilang saat berperang. Tak terhitung nyawa yang hilang.

“Mana teman-teman kita? Pasti Deb mencari kita,” ungkap saya pada Yermias.

Kamis, 01 November 2012

Assertive


Your Assertive Bill of Rights
1.       The right to be treated with respect
2.      The right to have and express your own feelings and opinions
3.      The right to be listened to and taken seriously
4.      The right to set your own priorities
5.      The right to set no without feeling guilty
6.      The right to ask for what you want
7.      The right to get what you paid for
8.      The right to ask for information from professionals
9.      The right to make mistakes
10.   The right to choose to assert yourself
11.    And if I don’t get it right, I have the right to forgive myself.


Minggu, 28 Oktober 2012

My Internasional Flight

Airportnya penuh dengan orang lalu lalang. Kebanyakkan orang-orang yang berada di sekitar saya lebih tinggi daripada saya, berkulit putih dan cap-cus berbicara bahasa Inggris. Saat saya turun dari pesawat, langsung menuju ada karpet biru, sebelah kanan dan kiri kaca, pada ujung jalan ada pengawas perempuan berambut pirang, sambil memegang handytalk (HT) sembari mengarahkan penumpang menuju jalan lain.

Penumpang yang turun dari pesawat berjalan dengan sangat cepat, langkah yang lincah. Tak ada seorang pun yang memegang handphone sambil jalan, bila pun ada maka orang itu menghentikan jalannya lalu menyingkir dari tengah, berbeda sekali dengan di Indonesia yang sudah membiasakan diri berjalan sambil memegang handphone dengan langkah yang cenderung santai.

Saat saya mulai mengikuti langkah cepat mereka, saya tetap saya didahului (mungkin karena kaki saya tak sepanjang mereka) padahal orang-orang yang mendahului berjalan membawa ransel yang lebih besar, dengan koper di tangan kiri. Sontak saya sempat berhenti sejenak menikmati atmosfer airport. Baik pria, wanita serta anak-anak berjalan lincah hilir mudik kurang memperhatikan kiri kanan, tatapan ke depan mencari claim bag.

Senin, 22 Oktober 2012

Esmeralda Santiago di Taman Budaya Medan



Taman Budaya Medan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Medan Timur dikunjungi oleh Konsulat Amerika Kathryn Crockart mengundang Esmeralda Santiago.  Ruangan yang berukuran kurang lebih 10x 15 meter menyambut kehadiran dua wanita yang aktif berbahasa Inggris.

Akomodasi dalam diskusi ini sangat sederhana, ada enam kipas angin dilangit-langit ruangan, namun hanya empat saja yang berputar. Saya tidak tahu kapan terakhir kipas angin tersebut dibersihkan. Saya melihat debu pada baling-baling kipas sangat tebal. Baling-baling kipas yang berwarna biru telah berubah warna menjadi warna coklat, begitu juga dengan jeruji bulat tersebut. Warna putih sudah menjelma menjadi warna coklat juga.

Kamis, 04 Oktober 2012

Papuan Prisoner of Conscience Filep Karma in Jakarta for Medical Treatment


Press Release

Jakarta, Indonesia [28 September 2012].

Filep Karma, apolitical prisoner of conscience from Papua, has attended a two-week medical treatment in Jakarta hospital and has returned to Abepura prison in West Papua on Wednesday evening. He arrived in Jakarta on September 14 and took a colonoscopy treatment in PGI Cikini hospital, Jakarta.

Indonesian physicians in Jayapura, who earlier examined Karma with simple equipment, suspected that he has a colon tumor.As it is not possible to conduct a colonoscopy in West Papua the physicians referred him to the hospital in Jakarta.

Karma was imprisoned in 2004 and is serving 15 years in prison for participating in a peaceful independence demonstration and for raising the Morning Star flag, an important Papuan symbol of independence. The UN Working Group on Arbitrary Detention declared him a political prisoner in September 2011, asking the Indonesian government to immediately and unconditionally release Karma. The government, however, denies the existence of “political prisoners” in Indonesia. His injuries were sustained from acts of torture inflicted on him while in prison. He also injured his hip during a falling 2006.


It took nearly six months for Karma to be able to be transferred to Jakarta despite this referral. Abepura prison officials, under the Ministry of Law and Human Rights, have refused to cover cost of his medical treatment and travel. The Indonesian government’s refusal to cover his costs is in direct contravention of national and international law. According to United Nations Body of Principles for the Protection of All Persons under Any Form of Detention or Imprisonment (Principle 24), and Indonesian law (Regulation No. 32/1999 on Terms and Procedures on the Implementation of Prisoners' Rights in Prisons) it is required that all medical costs for treatment of a prisoner at a hospital be borne by the State.

Despite the Abepura prison authorities recently giving permission for Mr. Karma to travel to Jakarta, they still refuse to cover the cost of his medical treatment and travel. Funds have been raised through donations from the Prisoners of Conscience Appeal Fund (London), Rev. Socratez Yoman’s church service (Timika), STT Walter Post (Jayapura) and many individuals.

Arya Adikku Sayang….



 Rembulan begitu terang malam itu. Bulat sempurna. Kuning bercahaya, dari tempatku berpijak saat ini tampak seperti ada benua di bulan yang terang itu. Rumah tempatku tinggal menghadap ke Selatan, untuk menikmati cahaya itu aku menghadap ke Timur. Menggagkat kedua tangan tinggi lalu merenggangkan tubuh terkhususnya tulang punggung.

Senyum terindah pada Dewi Bulan sebelumku masuk ke dalam rumah. Dari daun pintu aku sudah dapat melihat adikku, Satria Arya yang kini berusia sembilan tahun duduk sambil memegang pulpen di tangan kanan membaca buku bacaannya lalu menulis pada buku bergaris walau sesekali matanya melirik ke televisi. Satria Arya kini duduk di kelas III SD YPK Budi Murni 7. Postur tubuhnya cukup tinggi dibanding dengan teman sekelasnya. Arya panggilannya. Ia sudah sepundakku.

Saat aku mendekatinya, Arya kembali fokus pada buku di depannya.
“Kakak nggak makan?”
“Bentar lagi,” sambil kubaca tulisan pada buku tulisnya.
“Aduh… Sakit perutku!”
“Jangan banyak alasanya Arya!”

Melihat aku dan Arya bersama saat belajar, biasnaya membuat mamaku tertawa karena ulah Arya. Aku tahu yang ada di dalam pikiran mamaku. Pasti ada aja alasan aneh dari Arya yang tidak dapat dihindari saat belajar. Mulai dari lapar tiba-tiba walau sudah makan, sesak kencing yang dapat dia lakukan tiga kali dalam dua jam, bahkan ia bisa saja sesak berak tiba-tiba dan berlama-lama di kamar mandi.

Kami semua sudah maklum saja, karena Arya adalah anak bungsu. Dan aku sebagai anak sulung selalu saja mendengar laporan-laporan aneh Arya bila sampai di rumah. Ucapnya sering menghiburku. Arya berusia sembilan tahun dan kini aku berusia 23 tahun. Perbedaan yang cukup terasa. Arya lahir saat aku duduk dibangku SMP.

Usai mengajarinya, kami tidur bersama dalam satu kamar. Kipas yang tak bisa dihentikan. Bila kipas terhenti, ia spontan akan bangun.

Mungkin saat kau membaca ini kau sudah menginjak remaja dan mengatakan “gak mungkin aku kayak gini,” Tapi itulah kenyataannya dek. Kita juga dulu pernah lomba makan banyak. Karena di rumah hanya kita berdua yang paling kurus, sedangkan bapak, mama, Putrid an Indra semua berbadan besar. Mereka algojo kita semua dek. With love. And big hug.