Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

Kunjungan ke War Memorial, Canberra



Delapan wartawan telah melewati penerbangan Melbourne-Canberra selama 55 menit. Mereka paling sedikit membawa dua tas untuk persiapan selama tujuh hari.

Keberangkatan ke Canberra dipandu oleh wanita yang berambut coklat berbaju hitam putih dan tas coklat di selempangkan di bahu kanannya. Deborah Muir namanya.

“One, two, three……Eight. Okay,” ucapnya saat berada sembari menghitung jumlah fellow.
Deb selalu menghitung jumlah peserta, terutama bila ada peserta usai menyebrangi jalan, berjalan dikeramaian dan persimpangan. Entah berapa Deb mengucapkan angka satu sampai delapan. Untungnya dia lebih tinggi dari kami semua, jadi dia tak perlu jinjit sewaktu menghitung kami.

Berbekal semangat, pengalaman, rasa ingin tahu, maka naluri jurnalis kami kembali berkobar. Sesampai melewati proses pemeriksaan bandara yang cukup menyita waktu untuk membongkar tas, akhirnya rasa itu terbayar sudah sesampai di Canberra.

Usai menitipkan barang-barang di hotel kami langsung bergegas mencari makan siang. Saat makan siang pun Deb tak lupa untuk menghitung jumlah kami. Australian War Memorial adalah tujuan berikutnya. Sesampai disana kami sudah melihat gedung War Memorial yang saling berhadapan dengan Old Parliament House.

Setelah menatap lamat-lamat ke Old Parliament House, seketika itu saya tersadar bahwa ada ratusan kursi putih yang berbaris rapi menghadap ratusan karangan bunga. Pada karangan bunga terdapat nama negara.  Ada karangan bunga dari Negara Indonesia tempat kelahiran saya, ada dari Bosnia, Timor Leste, Mexico, Arab Saudi, Malaysia dan masih banyak ratusan karangan bunga. Dan karangan yang paling mungil adalah karangan bunga dari siswa sekolah dasar.
“Their name liveth for everymore,”terukir di atas batu yang dipenuhi karangan bunga.


Saat masuk ke dalam gedung War Memorial, saya benar-benar disuguhkan dengan atmosfer tahun 1800-an. Foto, patung, pakaian para militer yang berjuang, tongkat, serta peralatan makan hingga perang. Gedung Austalian War Memorial ini dibuka pada 1941 yang terdiri dari tiga bagian: Area Commemorative (kuil) termasuk Hall of Memory dengan Makam Prajurit Australia diketahui, galeri Memorial ini (museum) dan Pusat Penelitian (catatan). Memorial ini juga memiliki Sculpture Garden luar ruangan. Memorial saat ini buka dari 10 sampai 5 sore.


Two Light horse signaller outside a redoubt in the Sinai Desert, 1918

Salah satu foto yang membuat saya larut adalah dua orang tentara yang duduk di daerah Sinai. Mereka mengenakan celana pendek, kaos kaki setinggi siku kaki, hanya topi sebagai pelindung kepala mereka. Alat tulis dan kertas pada tangan merekalah yang membuat saya menitikan air mata.

Seperti mereka sedang melakukan komunikasi jarak jauh. Duduk diatas pasir tandus. Kawat duri yang berada di belakang mereka membuat keadaan semakin mencekam bagi saya. Saya sempat berbicara dalam batin saya.

“Apa mampu saya melewati masa yang telah dilewati oleh mereka yang telah tiada. Suara tembakan. Darah. Mayat. Gurun. Seketika entah kenapa tiba-tiba saja saya berfikir, ini akan terjadi bila saya meliput perang. Mau tidak mau harus mau dan mampu!”
Mereka yang berada namanya terukir di War Memorial ini adalah pahlawan yang takkan pernah dilupakan sekaligus korban perang. Saat melihat seisi War Memorial, saya berpapasan dengan seorang fellow dari West Papua, Yermias Degei ia mengatakan peperangan harus segera dihentikan.

“Stop peperangan! Mereka ini adalah bukti dari korban perang! Stop penindasan! Stop penjajahan!”

Benar yang disampaikan oleh Yermias, entah berapa kerugian materi yang hilang saat berperang. Tak terhitung nyawa yang hilang.

“Mana teman-teman kita? Pasti Deb mencari kita,” ungkap saya pada Yermias.

Minggu, 12 Agustus 2012

Galau...


Untuk Mamak dan Bapakku Tersayang…

Aku heran! Entah apa yang ada dalam pikiran orangtuaku. Saat aku mengerjakan ini salah. Saat mengerjakan itu.

Entah apa yang mau dilakukan selalu dipertimbangkan. Aku tahu bahwa sebelum mengambil keputusan harus ada pertimbangan yang matang. Tapi kalau terlalu banyak menimbang sana-sini. Aku mau jadi apa.

Usai menjalani praktek pengalaman lapangan mengajar aku dapat panggilan untuk bekerja di Mimbar Umum. Aku senang sekali, lagi-lagi orangtua selalu saja pesimis. “Ngapain jadi wartawan. Mau jadi apa? Apa mau jadi tukang minta-minta?”
Aku paham, dengan kondisi ini, karena dikeluarga kami juga ada saudara dari bapakku yang juga berprofesi sebagai wartawan, namun tak tahu entah dari media media mana. Mungkin inilah salah satu hal yang membuat pesimis dengan keadaan wartawan.

Jumat, 03 Agustus 2012

Bagaimana Bulan Ramadhan 2012?


Suara magrib tahun ini mengingatkan aku akan masa-masa puasa beberapa tahun silam. Masih jelas dalam ingatanku. Saat aku duduk di bangku SMAN 1 Percut Sei Tuan. Itu sekitar tahun 2004. Tahun itu aku memutuskan untuk berangkat ke kampong mamaku. Tigalingga namanya. Bila dari Sidikalang butuh waktu satu jam untuk menjumpai Tigalingga.

Saat itu, sekolahku libur dari awal puasa hingga lebaran. Ini bagiku liburan yang sangat panjang. Berangkat sendiri ke kampung adalah cara yang paling praktis untuk menikmati liburan. Itu kali pertama kali aku pulang kampung tanpa orangtua dan adik-adikku.

Silahturahmi ke rumah tulang-nantulang, tante, udak-nangudak dan juga ke rumah opungku. Saat itu aku masih dapat bercakap-cakap dengan opungboru dan opungdoliku di kampung. Walau sudah berumur sekitar 80an, namun mereka masih bias memindahkan satu goni gabah dari teras ke dalam rumah. Simalolong (mata) mereka juga masih dapat membaca tulisan pada Bible. Walau kulit sudah keriput, tapi semangat dan cinta mereka tak pernah kusut.

Berjalan kaki ke ladang. Aku rasa 500 meter lebih itu ada untuk mencapai ladang opung. Jauh nian. Keadaan sekitar, hamper semua rumah terbuat dari papan, bilapun ada yang terbuat dari beton, itu hanya sebagian aja. Pepohonan masih banyak.Tak ada kata lelah bagiku. Bayangkan aja, opungku aja bisa jalan kaki samaku dan tak ada bilang lelah.

Pergi ke ladang durian, menabur abu di padi. Memungut durian yang jatuh. Saat itu aku ke ladang bersama opungboru (nenek). Mencabut ubi untuk makanan babi, lalu memasak makanan babi dan memberikan ke babi yang ada di kandang.

Itulah kisah yang pernah aku jalani di tahun 2004.

***

Saat aku kuliah, pada semester tujuh (tepatnya tahun 2010) aku menjalani masa PPL (praktek pengalaman lapangan). Itu adalah masa bulan puasa yang aku lewatkan bersama siswa-siswaku yang duduk di bangku sekolah dasar.

Mereka sangat lucu-lucu. Bocah ingusan, setiap kali jam istirahat aku selalu merasakan aroma keringat anak-anak yang lucu-lucu. Kadang ada yang bergaya menggoda, kadang ada yang berwajah bingung, terkadang juga ada yang mengupil bahkan saat aku mengajar, aku sempat merasakan aroma kentut siswaku dan semua siswaku saling tuding-menuding akibat aroma yang sangat menyengat tersebut.

Aku hanya bisa tertawa dalam hati menyaksikan tingkah siswaku. Maklum saja, karena mereka masih kelas II SD. Harus banyak sabar menghadapi mereka. Aku pernah juga menghadapi siswa yang tiba-tiba saja menjadi pendiam, duduk di bangku dengan wajah pucat. Lalu saat aku mendekat, aku merasakan bau kotoran.

Astaga… Anak itu boker di dalam celananya… Wow…’selai kacang’ menetes sampai ke betisnya.

Itu pengalaman yang sangat unik bagiku ketika mengajar di bulan puasa.

Selanjutnya, pada tahun 2011, aku menjalani profesi yang berbeda. Dan ini sangat bertolak belakang sekali dengan bidang ilmu yang aku jalani selama duduk di bangku universitas. Namun, selama kuliah aku mendapatkan pendidikan di luar kuliah melalui organisasi yang aku jalani di Pers Mahasiswa Kreatif Unimed.


Setelah aku menjalani masa puasa di kampong, lalu menikmati masa puasa bersama siswa-siswa SD yang lucu-lucu. Dan tahun 2011, aku menjalani masa puasa bersama para kuli tinta. Bergerak kesana kesini untuk menjumpai narasumber, berlomba dengan waktu, mendapat perintah dan berbagai informasi via telepon dan SMS. Namun itu adalah kenikmati dan dinamisnya kehidupan.

Sampai saat ini aku tidak menyangka akan melewati masa-masa itu dengan beragam kondisi, bermacam lokasi dan beranekaragam orang.

Lalu di tahun 2012 ini bagaimana aku menjalani puasa dengan orang-orang disekitarku ya?





Senin, 07 Mei 2012

Koper Indie


Dear Koper Indie…

Happy May Day for us. May 1st 2012 is moment felt sad, tears, hungry, smile, hug, laugh and love. If you know? It’s very very wonderful.

Seharian bersama Yokko Cesoria Lubis, Sri Wulandari, Ayu Lestari dan Budiah Sari Siregar telah menciptakan sejuta suka untuk melewati sukar bersama. Tertawa bersama adalah yang paling sering kami lakukan ketika mendengar bad news. Dan secara serempak Koper Indie mengatakan bahwa bad news is a good news and good news is a good good news. Tawapun pecah saat bad news di lontarkan ketika diskusi.

Kami adalah wanita!

Disini kami berlajar menghadapi masalah. Bersikap tenang (berpura-pura tenang pun juga sering dilakukan), bersikap sabar (memaksakan diri untuk sabar), menjadi bijaksana dalam keadaan genting adalah hal unik yang sering dilakukan namun tak pernah terpikirkan oleh wanita Koper Indie.

Detik-detik persiapan Koper Indie untuk melaksanakan event “Menulis Kreatif Menghijaukan Kehidupan” semakin dekat. Salah satu persiapan Koper Indie untuk promosi adalah bekerja sama dengan Kiss FM  guna mempublikasikan pada khalayak ramai bahwa acara “Menulis Kreatif Menghijaukan Kehidupan” akan semakin dekat.

Event ini diadakan pada Hari Kamis dan Jumat bertanggal 3-4 Mei 2012. Bertempat di lantai IX Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol. Acara ini terlaksana berkat ide dan semangat wanita-wanita yang hanya bermodal “dengkul”.  Maksud saya dengkul disini ada kemauan, keberanian, kerjasama, kerjakeras. Tekad yang bulat untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Ayu Lestari mengatakan bahwa peserta yang hadir tidak bakal rugi karena setiap orang yang mendaftar akan mendapatkan voucher belajar senilai Rp. 200.000,- dari sekolah kepenulisan Mataniari Publisher.






Bersama Kita Bisa!


Bersama kita bisa adalah kalimat yang sangat familiar kepada kita. Walaupun ada sebahagian orang yang mengatakan bahwa kata tersebut seperti kalimat yang digunakan dalam kampanye ataupun ada pihak yang mengatakan bahwa kalimat tersebut kurang keren, namun inilah kalimat yang menjadi power dalam event Koper Indie.

Kami adalah wanita. Diah, Rinda, Ayu, Fani, Yokko, Wulan dan aku. Kami adalah anggota Koper Indie. Asa kerap kali menegur. Namun putus asa dan rasa ingin balik kanan sering kali menghampiri.

Mungkin bila hanya aku dan kau saja yang mengharapkan event ini terjadi, aku pesimis.
Mungkin bila hanya kau dan dia yang berdoa agar event ini terjadi, aku tidak percaya.
Mungkin bila aku, kau dan dia yang bercita-cita agar event ini terwujud, itu juga dapat terjadi, namun terjadi yang bagaimana?

Dan bila aku, aku dan kita semua yang benar-benar komitmen dalam melaksanakan event ini. And I believed it’s happen!

Untuk mewujudkan impian kita maka dari pengalaman yang aku tahu, kita membutuhkan beberapa hal. Komitmen, pengorbanan, percaya,optimis, tidak mengeluh dan doa. Ini adalah kata kunci yang ada kalanya akan teramat sangat sulit kita lakukan ketika kita dalam keadaan sendiri.

Kata bermuatan positif yang sangat berat kita capai kala kita sendiri. Kata bermuatan positif yang sangat benar meredam emosi jiwa, karena akan ada  masanya kita akan mengorbankan materi, tenaga bahkan perasaan.

Hal yang tidak mungkin kini menjadi mungkin, permasalahan yang tidak bisa dipecahkan bisa diselesaikan. Dan dengan terlaksananya event @bareng Poconggg, aku benar-benar merasakan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Modal awal dalam melaksanakan event ini adalah kegilaan, optimis, tawa, kebersamaan dan uang senilai Rp. 200.000,- Bagi kekuatan manusia, ini tidak mungkin. Apalagi mencari uang puluhan juta dalam kurun waktu seminggu. Dan sangat tidak sulit rasanya bila mendatangkan 700 peserta pada H-2 untuk menghadiri event @bareng Poconggg selama dua hari acara. Dan ingat, kami hanyalah tujuh orang wanita dengan kekuatan terbatas.

Pertolongan tak pernah terlambat. Setiap kali rapat malam, dengan kondisi penghuni tanah sejengkal yang berteriak-teriak, letih sangat lengket dangan tubuh. Helaan nafas sangat dalam masih terngiang di telingaku kala beban menyesak di dada. Saat rapat di malam hari, masing-masing orang memegang kepala masing-masing sambil berbaring, ada yang duduk bersandar di tembok, layaknya manusia yang tak bertulang, ada yang hanya memejamkan mata dan bernafas dengan suara tarikan nafas yang sangat keras.

Ini adalah kondisi yang sangat miris bila kau merasakannya. Benar-benar tidak ada ide malam itu. Aakkhh… Mati lampu. Maklum saja, ketika mati lampu, pasti ada beberapa perempuan yang spontan teriak dalam gelap.

Malam itu kami tidak menghidupkan teplok. Kami lebih memilih diam dalam gelap dan hening. “Tidak relistis ini bila kita laksanakan! Budget kita tidak ada! Lihatlah kemampuan kita, dana kita dan tenaga kita juga!” Pesimis yang sangat mendalam terasa kala rembulan menyinari malam tanpa cahya lampu.

Namun kami lebih memilih untuk menghentikan pesimis dan kembali bertemu esok sambil membawa ide dalam kepala masing-masing. Walapun begitu kami tetap melaksanakan timeline yang tersedia.

Kami masih punya semangat. Bergerak kesana-kesini. Mengantarkan proposal keliling Kota Medan (walau nyasar di siang bolong), mengantar proposal dan untuk kesekian kali ditolak, menjalankan flyer, walau tampak di depan mata, flyer dibuang orang langsung di depan kita.


Benar!

Tak ada yang mustahil, selama optimis masih ada. Maka pertolongan akan datang. Terima kasih kami sampaikan kepada Bank Sumut yang membantu menyukseskan acara Koper Indie.

Batin, event yang Koper Indie laksanakan terlihat seperti tidak realistis kala menjalaninya apalagi bagi kekuatan manusia sangat terbatas dengan berbagai kendala, namun tidak ada yang mustahil selama kita masih berdoa kepada Tuhan kita masing-masing.

Ucapan syukur yang sangat mendalam untuk Tuhan yang kita sebut dengan berbagai nama…
Ucapan terima kasih dari lubuk hati yang mendalam buat Tuhan yang kita sembah dengan berbagai cara. Terima kasih Tuhan. Event ini adalah bukti dari kebaikan hati-Mu…

***
Usai dari event @bareng Poconggg Koper Indie ini, maka pembaca juga harus siap-siap dengan kegilaan dan gebrakkan berikutnya kru Koper Indie.


Novita Sari Simamora

Minggu, 01 Mei 2011

Polemik Vihara Tri Ratna Tanjung Balai



Di Tanjung Balai saya menghadapi orang-orang yang takut berbicara. Ketakutan akan peristiwa yang pernah terjadi di tahun 1998 adalah alasan utama mereka untuk bungkam. Ketidak berdayaan untuk membela dan mempertahankan keberagaman tidak terucap dari mulut mereka. Dari wajah minoritas ini, telah terlihat ketakutan untuk memeluk agama dan membela agama yang telah mereka anut selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.


TELAH BANYAK keyakinan yang kami sampaikan bahwa kita dapat hidup dalam keberagaman dan ajakkan yang kami sampaikan kepada kaum minoritas untuk bersikap sedikit terbuka dan sedikit berbagi beban serta mengajak dan mengajari mereka untuk membela diri mereka sendiri. Kami hanya ingin menjembatani.

“Ternyata kalian tahu ya, masalahnya itu,”

“Lebih baik kalian menemui pengurus Viharanya saja, karena banyak orang yang menginginkan patung itu ditunkan. Kita tidak mau masalah tambah berabe.,”

Kami kesulitan untuk mencari orang-orang yang benar-benar menginginkan orang yang ingin patung itu tetap berdiri. Sulit menyakinkan pada mereka bahwa ada orang-orang yang peduli dengan hak kaum minoritas.  Ketika kami bertanya masalah terkait penurunan patung Buddha Rupang setinggi 6 meter yang terletak di atas vihara, wanita berkulit putih ini, hanya melipat tangan di dadanya, sesekali ia membuat tangan kirinya perut lalu siku kanannya diletakkan dipergelangan tangan kirinya, jari-jari yang di telapak tangannya diletakkan di hidung dan mulutnya. Sesekali wanita Tionghoa ini menyibak rambut hitam yang panjangnya sepunggung. Pandangannya hanya ke menuju pada lantai, walau terkadang ia melayangkan padangannya pada kami.

Perjalanan ini membuat kami memahami seberapa besar tekanan dan ketakutan yang dipendam oleh umat Buddha yang dijajah oleh kaum mayoritas di Tanjung Balai.

Di Tanjung Balai kami menumpang bermalam di rumah teman satu kuliah kami. Dia adalah seorang lelaki dan kami berdua adalah wanita. Rumahnya berada dijalan Arkat. Arif namanya. Arif menjelaskan bahwa Ketua Vihara Tri Ratna Tanjung Balai yang bernama Suwanto Saimah telah tewas akibat kecelakaan yang merenggut nyawanya.

“Kan Ketua Vihara Tri Ratna sudah meninggal ditabrak becak, biasanya tukang becak itu mangkal disimpang rumah ini, tapi karena sudah jam setengah dua belas malam, pastinya dia sudah tak ada lagi disimpang,” jelas Arif pada kami.

“Tukang becak itu, biasanya kami panggil siKolak-kolak, soalnya dia ada tungkik-tungkiknya. Sikolak-kolak itu memang ada kurang-kurangnya, makanya dia tidak dituntun orang Vihara,” tambahnya.

Pagi hari, sekitar pukul delapan kami menunggu Sikolak-kolak di persimpangan rumah dan ia pun belum terlihat. “Jam segini dia belum ada, dia biasanya nongkrong disini agak siangan, lagian nanti kalau kalian jumpa sama dia, sama aja sia-sia, dia tak bisa ngomong,” tambah Arif.

Akhirnya kami memutuskan pergi menuju Vihara Tri Ratna dengan menaiki kendaraan becak motor (betor). Nama tukang becak yang membawa kami adalah Yusuf (49) warga Jalan Arkat Lingkungan V, Kelurahan Sungai Merbau, Kecamatan Teluk Nibung. Ketika Yusuf mengendarain becaknya, ia banyak bercerita tentang hal yang ia ketahui. Yusuf pun membenarkan peristiwa meninggalnya Ketua Vihara Tri Ratna.

“Ketua viharanyakan sudah meninggal karena ditabrak becak,” ungkap Yusuf pada kami.

Yusuf juga memberitahukan kepada kami bahwa sempat terjadi demo karena patung yang ada diatas Vihara. Yusuf mengatakan bahwa ia sendiri kurang mengetahui penyebab ceritanya.

“Saya tidak terlalu paham, tapi dengar-dengar katanya mau dibongkar setelah ganti walikota. Selanjutnya saya belum tahu. Saya tidak tahu, apakah vihara itu bisa dibongkar atau tidak, karena itu sudah disetujui dan ditanda tangani,” ungkapnya di atas becak motor.

Sesampai di depan gerbang Vihara Tri Ratna kami takjub melihat keadaan Sungai Asahan yang terhampar luas tepat di depan Vihara Tri Ratna. Kami melihat boat kecil yang bersandar di tepi pesisir, tampak ada dua lelaki yang sedang duduk diatas sepeda motornya masing-masing.

Sungai Asahan adalah batas Utara Vihara. Bila kami melihat disebelah kanan Vihara atau tepatnya disebelah Timur berbatasan dengan Klenteng. Lokasi ini dimanfaatkan oleh seorang ibu untuk berjualan jajan-jajanan. Sedangkan untuk disebelah Barat berbatasan langsung dengan rumah penduduk, dan disebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Asahan.


Kami kesulitan untuk menemui pengurus Vihara, yang tampak hanyalah empat orang pekerja sedang memperbaiki lapangan. Pada saat itu jam menunjukkan pukul 09.00, sembari berharap ada seorang pengurus yang datang, kami juga minta izin untuk memfoto, serta menggunakan handycam di area vihara dan naik ke lantai dua vihara.

VIHARA TRI RATNA ini telah ada sejak tahun 1984. Awal sebelum pembangunan vihara, bangunan yang terletak di Jaln Asahan ini berbentuk sebuah rumah bercat putih memiliki dua pilar yang berada sekitar tiga meter dari pintu masuk bangunan. Disediakan 40 orang panitia pembangunan untuk melakukan pembangunan Vihara. Pembangunan tersebut dinamakan pembangunan Vihara Tri Ratna.

Akhirnya, pembangunan Vihara selesai pada tanggal 3 November 1984 pukul 02.00 wib, kemudian diadakan upacara ritual yang dipimpin oleh Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia Y.A Maha Stavira Ashin Jinarakhita (alm).

Peremian penggunaan Vihara Tri Ratna dilaksanakan pada pagi hari, tanggal 3 November 1984 yang diresmikan oleh Walikota Tanjung Balai Asahan H. Ibrahim Gani (alm). Demi menjalin persatuan yang kokoh dan bertanggung jawab terhadap pembangunan Vihara, maka dibentuklah susunan kepengurusan. Kepengurusan Vihara Tri Ratna diketuai oleh Tiong Chun, wakil ketua Lie Thien Cai, sekretaris adalah Susianny Intan, Bendahara Goh Bun Seng serta komisarisnya adalah Goh Seng Hong.

Lalu seiring berjalannya waktu kepengurusun pun diganti. Ketua I adalah Suwanto Saimah (alm), Ketua II Andy Wibowo, Sekretaris Tony, Wakil Sekretaris Dewi, Bendahara Tieng Beng Cuan dan Wakil Bendahara Suriadi Kie.


PEMUGARAN kembali Vihara Tri Ratna dilakukan pada tahun 2006, dengan luas bangunan 1432 m2 . Pada saat pemugaran hendak dilaksanakan, Walikota Tanjung Balai pada saat itu datang untuk menuangkan semen sebagai tanda peresmian pembangunan Vihara Tri Ratna Tanjung Balai yang disaksikan oleh rombongan dan segenap pengurus Vihara Tri Ratna Tanjung Balai.

Kata sambutan saat peresmian pemugaran juga dilantunkan Sutrisno Hadi selaku Walikota Tanjung Balai  di tahun 2006, namun saat ini dia tidak Walikota lagi. Pakaian safari biru dongker selalu menjadi ciri khasnya, topi hitam beserta bordir Burung  Garuda dikenakan di kepalanya. Ia berdiri did depan podium yang bertaplak warna kuning. Semua keadaan masih aman saat itu.

Pembangunan berlangsung selama tiga tahun. Vihara Tri Ratna Tanjung Balai yang telah dipugar selesai di bulan November 2009. Vihara yang sebelumnya dua lantai, kini menjadi enam lantai. Lantai dasar dijadikan aula, lantai dua dan tiga sebagai ruang kebaktian, lantai empat tempat tinggal Bhikkhu dan Bhikkhuni, lantai lima tempat meidtasi sedangkan lantai enam tempat berdirinya patung Buddha Rupang, yang berdiri diatas teratai dengan ketinggian delapan meter yang dipesan dari Bandung. Ir. Leo Wijaya adalah arsitektur bangunannya.

Bangunan yang dahulunya bercat putih kini berubah menjadi banguan bercat kuning. Vihara Tri Ratna yang bercat kuning ini, diresmikan kembali pada hari Minggu, 8 November 2009.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakt Buddha (Dirjen Bimas) Buddha Depag RI Drs. Budi Setiawan datang dan menandatangani prasasti pertanda diresmikannya Vihara Tri Ratna Tanjung Balai. Walikota Tanjung Balai saat itu pun turut menandatangani prasasti yang telah disediakan. Mulai dari Majelis Ulama Islam sampai pemuka-pemuka agama pun turut hadir saat peresmian dilangsungkan.

Wakil Walikota Tanjung Balai Drs H.M. Thamrin Munthe melantun rasa bangga saat kata sambutan. Pemerintah Kota (Pemko) bertanggungjawab penuh akan pembinaan umat beragama di Kota Tanjung Balai. Thamrin juga mengacungkan jempol akan sikap hormat menghormati umat beragama yang diwujudkan dalam bentuk saling tolong menolong di daerah heterogen yang multi etnis ini. Terbukti dengan tidak adanya hambatan saat pemugaran vihara enam lantai yang menghadap ke  Sungai Asahan.





SEORANG PANITIA pembangunan Vihara Tri Ratna yang bernama Sujadi menjelaskan pembangunan telah selesai dan diresmikan dua tahun lalu. “Inikan sudah dibangun kenapa harus diributkan?” ungkapnya.

 “Ini ributnya ini gara-gara pilkada. Ada pihak yang sengaja membuat itu lebih parah,”

Pemugaran yang telah dilaksanakan selam tiga tahun berjalan lancar, namun dua tahun selang setahun diresmikan, ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa izin bangunan vihara itu tidak sah, ada yang mengatakan vihara itu mengganggu umat Islam dan ada yang mengatakan lambang vihara yang diletakkan di atas vihara itu melambangkan kemusrikan bagi umat Islam.

“Kita inikan berdasarkan Pancasila, kenapa harus diributkan, ada yang bilang mengganggu sholat, karena patungnya nampak,” ungkap Sujadi

Sujadi menjelaskan keadaan peresmian acara Vihara. "Sewaktu pidato, Pak Tamrin Munthe bilang, Kota Tanjung Balai bisa dibilang Kota Wisata Agama, karena ada Masjid, ada Vihara dan juga ada Gereja. Kita bersedia saling bantu membantu. Waktu ada MTQ, kita ikut juga membantu. Tak ada korban. Kalau mereka mau ribut ya silahkan, kalau patung inikan perlengkapan dari rumah ibadah, inikan lambang kita, sama kayak mesjid, kalau tidak ada kubah sama tak masjid,” katanya.

Setelah dua tahun patung Buddha Rupang setinggi 6 meter berdiri di atas Vihara Tri Ratna. Ada kelompok yang mengatas namakan Gerakan Islam Bersatu (GIB) untuk menurunkan patung tersebut. Penghuni Kota Tanjung Balai mayoritas umat Islam.

Perlindungan bagi kaum minoritas yang berjumlah 2000an jiwa di Tanjung Balai ini tidak ada. Terbukti dengan adanya gerakan-gerakan organisasi masyarakat selaku kaum mayoritas menginginkan kaum minoritas untuk menuruti kemauan mereka. Kemauan kelompok-kelompok Islam tersebut adalah menurunkan Patung Buddha Rupang diletakkan diatas Vihara Tri Ratna tersebut.

Ketua Gerakan Islam Bersatu Taufik Hajar Manurung mengatakan bahwa Izin bangunan tidak ada, yang ada hanya izin bangunan tingkat empat,

“Sejarah, Tanjung Balai adalah adanya balai di ujung tanjung. Sekarang terjadi perubahan, ada patung diujung tanjung, berarti dari segi kultur  budaya, adanya penyalahgunaan budaya. Maka hal ini sangat riskan sekali, bila Tanjung Balai dikotori patung. Kami meminta kepada pemerintah harus melaksanakan kesepakatan yang telah ditandatangani sewaktu Muspida Plus,” ungkapnya.

Hal seperti ini juga terdengar ketika kami mewawancarai seorang pemuka agama Islam. Sahlan Sitorus kami temui usai sholat Jum’at di Masjid Raya Ahmadsyah, yang merupakan anggota MUI Tanjung Balai. Sahlan mengatkan bahwa karena adanya patung di atas vihara, maka Tanjung Bali ini terlihat seperti kota musrik. “Izin mendirikan bangunan ada, tapi izin patung mereka tidak ada. Ada empat orang yang datang di Muspida Plus. Pihak Vihara Tri Ratna diajak rapat sama walikota. Nama juga sudah didesak walikota orang itu,” tegasnya.

Surat Kesepatan Bersama tentang penyelesaian permasalahan patung Buddha Amitabha yang berada di atas Vihara Tri Ratna Kota Tanjung Balai. Surat itu ada tiga lembar.

Menyatakan, Kesatu memindahkan posisi patung Buddha Amitabha yang berada di atas atau atap vihara Tri Ratna Kota Tanjungbalai ke tempat lain yang tetap terhormat tanpa mengurangi penghormatan terhadap keberadaan patung tersebut. Kedua, pemindahan posisi patung Buddha Amitabha sebagaimana dimaksud pada dictum Kedatu dilakukan oleh pengurus Vihara Tri Ratna Tanjungbalai. Ketiga, pemindahan posisi patung Buddha Amitabha ini demi menjaga kerukunan umat beragama di Kota Tanjungbalai

Surat tersebut dibubuhi Sembilan tanda tangan. Walikota Tanjungbalai saat itu Dr.H.Sutrisno Hadi,Sp.Og, Wakil Ketua DPRD Kota Tanjungbalai Surya Darma.AR, Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Herry Sunaryo,SH, Wakapolres Tanjungbalai Napitu Kompol/NRP750108, Dandim 0208/Asahan Letkol (Inf) Herry Christianto, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai H.Ahmad jais, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tanjungbalai Drs.H.Datmi Irwan, Ketua MUI Kota Tanjungbalai yang diwakili oleh H Syahron Sirait dan Ketua Yayasan Vihara Tri Ratna Kota Tanjungbalai Suwanto Saimah.

Muspida Plus dilaksanakan pada hari Selasa, tapatnya tanggal 3 Agustus 2010. Ada penandatangan surat yang berjudul “KESEPAKATAN BERSAMA” saat muspida dilaksanakan.

Terdapat unsur pemaksaan dalam penandatanganan surat yang diberikan sewaktu Muspida Plus.

Sujadi merupakan seorang dari empat orang yang hadir dalam Muspida Plus. “Waktu itu kami dipaksanya di Muspida plus. Waktu kesepatan kita ikut. Kita agama Buddha dipaksa untuk tidak mengorbankan. Jangan sampai ada korban,jangan sempat ada korban,” ungkapnya di dalam lokasi Vihara.

Ia berkata sambil terbata-bata. Kami terdiam mendengar keluhan Sujadi.
“Personil kita tidak cukup, sempat ada korban personil kita tak cukup. Sampai didalam kami pikirkan, mengambil korban itu, agama Buddha tidak boleh mengambil korban. Begitu keluar suratnya keluar langsung kita tanda tangani. Waktu Muspida plus, datang untuk musyawarah langsung dikasih surat dan tanda tangan,” tambahnya.

Lelaki yang memiliki kulit putih keriput serta ada bintik-bintik hitam di kulit tangannya akibat dimakan usia menjelaskan keadaan saat Muspida Plus. “Penandatanganan langsung di Muspida Plus. Didepan orang dari Kodim, Jaksa, Polisi, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta  tokoh-tokoh agama,”

“Kita takut dan menjaga, tak mau ada korban lagi seperti peristiwa tahun 98. Karena tahun 98 dulu, orang China dihantam rumah-rumahnya,”

Dengan adanya penandantangan Surat keputusan Bersama yang dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2010, hal tersebut telah menunjukkan adanya diskrimisnasi pada Kaum Buddha.

Selanjutnya, Direktur Aliansi Sumut Bersatu (ASB) Veryanto Sitohang menyatakan, ASB mengecam, mengutuk keras dengan tegas tindakan tersebut. “Seharusnya pemerintah mengormati kebebasan setiap warga negara untuk menjalankan dan mendirikan rumah ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing, sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 29. Saya juga sangat berharap agar pemerintah memperhatikan hak-hak kaum minoritas. Sudah sangat jelas bahwa surat kesepakatan bersama yang telah ditandatangani untuk menurunkan patung tersebut melanggar hak asasi manusia,” jelas Veryanto.

Patung Buddha Rupang tersebut berada di lokasi Vihara. “Patung itu ada di lokasi paling atas vihara, bukan berada di luar, dan bila diketahui, bahwa menurut ajaran agama Buddha, patung Buddha harus diletakkan di posisi paling atas,” tambahnya.

Apa yang akan terjadi bila Salib yang berada bangunan teratas gereja diturunkan?
Serta apa jadinya bila Bulan dan Bintang yang ada di atas masjid diturunkan?

Setiap umat beragama berhak menjunjung tinggi agama yang mereka miliki, tak tidak boleh ada pihak manapun yang menentang dan yang melarang. Kebebasan untuk memeluk agama, kebebasan untuk menjalankan agama, kebebasan untuk memiliki rasa aman dalam memeluk agama pun harus kita jaga.

AGAMA BUKANLAH HAL YANG PERLU DIPERDEBATKAN


Pemeluk agama Islam terbanyak berada di 18 kota dan kabupaten Sumatera Utara yakni di Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Langkat,  Asahan, Deli Serdang, Labunan Batu, Medan, Serdang Bedagai,  Sibolga, Tanjung Balai, Binjai, Tebing tinggi, Padang Sidempuan, Batubara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan.

Agama
Jumlah
Persentase
Islam
8.403.997
65,46 %
Kristen Protestan
3.417.574
26,62 %
Katolik
   613.674
   4,78 %
Buddha
    362.042
   2,82 %
Hindu
     23.109
    0,18 %
Lain-lain
      17,974
    0,14 %


Sementara umat Kristen terbanyak di sembilan kota dan kabupaten Sumut yakni Tapanuli Utara, Nias, Nias Selatan, Karo, Dairi, Toba Samosir, Samosir, Pakpak Barat, dan Humbang Hasundutan. Sedangkan jumlah umat Islam dan Kristen hampir berimbang berada di Tapanuli Tengah dan Pematang Siantar.

Bangunan Rumah Ibadah
Jumlah
Masjid
9.199
Mushollah
10.325
Gereja Kristen
10.277
Gereja Katolik
2.124
Kuil
63
Vihara
367
Cellya
77
Jumlah Rumah Ibadah
32.432

Pemeluk agama Islam terbanyak berada di 18 kota dan kabupaten, yakni di Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Langkat, Asahan, Deli Serdang, Labunan Batu, Medan, Serdang Bedagai, Sibolga, Tanjung Balai, Binjai, Tebing Tinggi, Padang Sidempuan, Batubara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan. Sementara umat Kristen terbanyak di sembilan kota dan kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Nias, Nias Selatan, Karo, Dairi, Toba Samosir, Samosir, Pakpak Barat, dan Humbang Hasundutan.
Sedangkan jumlah umat Islam dan Kristen hampir berimbang berada di Tapanuli Tengah dan Pematang Siantar.

 Catatan Perjalanan
Jumat, 8 April 2011