Selasa, 15 Januari 2013

Andai Ayahku Seorang Dewa Bumi


Bumi. Ini adalah hunian kita. Pencipta berpesan, agar kita berkuasa atas segala ciptaan-Nya, menjaga.

Entah kenapa telingah mulai risih mendengar jeritan-jeritan. Kalut. Terlalu penuh dengan nista di bumi ini. Layakkah aku meminta Dewa Bumi menjadi ayahku. 

Satu permohonanku kepada ayah bila ia menjadi Dewa Bumi. Engkau berkuasa atas tanah.

“Tanah?”

Iya tanah yah…

“Kenapa?”

Selama ini ayah tidak mengetahui sudah berapa ratus juta nyawa yang (sengaja di) hilang mempertahannya tanahnya. Bahkan mereka mati di atas tanahnya sendiri yah.

“Lalu?”

Lalu yang bukan pemiliknya dibela oleh orang-orang besar itu yah! Mereka dibiarkan memiliki tanah, berpesta, meraih hasil dan menghilangkan jejak pemilik sesungguhnya dengan tanah juga. Itu juga demi angka!

“Apa yang dapat ayah perbuat?”

Keadilan!

Dibalik Narasi Sumatera


Bertemu pemuda-pemuda Sumatera ibarat bertemu saudara kandung pernah hilang. Tiada rasa sungkan dalam mengungkapkan perasaan, baik kisah percintaan, ekonomi,perkuliahan bahkan keluarga. Setiap pertemuan demi pertemuan selalu dikemas dalam tawa walau sang pencerita dalam kelam masalah. Bagian tersebut adalah bagian yang sangat saya sukai saat berbagi kisah kepada pemuda se-Sumatera?

“Panjang, Dalam dan Terasa” telah mempertemukan 20 pemuda se-Sumatera. Ini jua kata kunci penghilang stress saat pertemuan ditaja.



Selasa, 11 Desember 2012

Kunjungan ke War Memorial, Canberra



Delapan wartawan telah melewati penerbangan Melbourne-Canberra selama 55 menit. Mereka paling sedikit membawa dua tas untuk persiapan selama tujuh hari.

Keberangkatan ke Canberra dipandu oleh wanita yang berambut coklat berbaju hitam putih dan tas coklat di selempangkan di bahu kanannya. Deborah Muir namanya.

“One, two, three……Eight. Okay,” ucapnya saat berada sembari menghitung jumlah fellow.
Deb selalu menghitung jumlah peserta, terutama bila ada peserta usai menyebrangi jalan, berjalan dikeramaian dan persimpangan. Entah berapa Deb mengucapkan angka satu sampai delapan. Untungnya dia lebih tinggi dari kami semua, jadi dia tak perlu jinjit sewaktu menghitung kami.

Berbekal semangat, pengalaman, rasa ingin tahu, maka naluri jurnalis kami kembali berkobar. Sesampai melewati proses pemeriksaan bandara yang cukup menyita waktu untuk membongkar tas, akhirnya rasa itu terbayar sudah sesampai di Canberra.

Usai menitipkan barang-barang di hotel kami langsung bergegas mencari makan siang. Saat makan siang pun Deb tak lupa untuk menghitung jumlah kami. Australian War Memorial adalah tujuan berikutnya. Sesampai disana kami sudah melihat gedung War Memorial yang saling berhadapan dengan Old Parliament House.

Setelah menatap lamat-lamat ke Old Parliament House, seketika itu saya tersadar bahwa ada ratusan kursi putih yang berbaris rapi menghadap ratusan karangan bunga. Pada karangan bunga terdapat nama negara.  Ada karangan bunga dari Negara Indonesia tempat kelahiran saya, ada dari Bosnia, Timor Leste, Mexico, Arab Saudi, Malaysia dan masih banyak ratusan karangan bunga. Dan karangan yang paling mungil adalah karangan bunga dari siswa sekolah dasar.
“Their name liveth for everymore,”terukir di atas batu yang dipenuhi karangan bunga.


Saat masuk ke dalam gedung War Memorial, saya benar-benar disuguhkan dengan atmosfer tahun 1800-an. Foto, patung, pakaian para militer yang berjuang, tongkat, serta peralatan makan hingga perang. Gedung Austalian War Memorial ini dibuka pada 1941 yang terdiri dari tiga bagian: Area Commemorative (kuil) termasuk Hall of Memory dengan Makam Prajurit Australia diketahui, galeri Memorial ini (museum) dan Pusat Penelitian (catatan). Memorial ini juga memiliki Sculpture Garden luar ruangan. Memorial saat ini buka dari 10 sampai 5 sore.


Two Light horse signaller outside a redoubt in the Sinai Desert, 1918

Salah satu foto yang membuat saya larut adalah dua orang tentara yang duduk di daerah Sinai. Mereka mengenakan celana pendek, kaos kaki setinggi siku kaki, hanya topi sebagai pelindung kepala mereka. Alat tulis dan kertas pada tangan merekalah yang membuat saya menitikan air mata.

Seperti mereka sedang melakukan komunikasi jarak jauh. Duduk diatas pasir tandus. Kawat duri yang berada di belakang mereka membuat keadaan semakin mencekam bagi saya. Saya sempat berbicara dalam batin saya.

“Apa mampu saya melewati masa yang telah dilewati oleh mereka yang telah tiada. Suara tembakan. Darah. Mayat. Gurun. Seketika entah kenapa tiba-tiba saja saya berfikir, ini akan terjadi bila saya meliput perang. Mau tidak mau harus mau dan mampu!”
Mereka yang berada namanya terukir di War Memorial ini adalah pahlawan yang takkan pernah dilupakan sekaligus korban perang. Saat melihat seisi War Memorial, saya berpapasan dengan seorang fellow dari West Papua, Yermias Degei ia mengatakan peperangan harus segera dihentikan.

“Stop peperangan! Mereka ini adalah bukti dari korban perang! Stop penindasan! Stop penjajahan!”

Benar yang disampaikan oleh Yermias, entah berapa kerugian materi yang hilang saat berperang. Tak terhitung nyawa yang hilang.

“Mana teman-teman kita? Pasti Deb mencari kita,” ungkap saya pada Yermias.

Kamis, 01 November 2012

Assertive


Your Assertive Bill of Rights
1.       The right to be treated with respect
2.      The right to have and express your own feelings and opinions
3.      The right to be listened to and taken seriously
4.      The right to set your own priorities
5.      The right to set no without feeling guilty
6.      The right to ask for what you want
7.      The right to get what you paid for
8.      The right to ask for information from professionals
9.      The right to make mistakes
10.   The right to choose to assert yourself
11.    And if I don’t get it right, I have the right to forgive myself.


Minggu, 28 Oktober 2012

My Internasional Flight

Airportnya penuh dengan orang lalu lalang. Kebanyakkan orang-orang yang berada di sekitar saya lebih tinggi daripada saya, berkulit putih dan cap-cus berbicara bahasa Inggris. Saat saya turun dari pesawat, langsung menuju ada karpet biru, sebelah kanan dan kiri kaca, pada ujung jalan ada pengawas perempuan berambut pirang, sambil memegang handytalk (HT) sembari mengarahkan penumpang menuju jalan lain.

Penumpang yang turun dari pesawat berjalan dengan sangat cepat, langkah yang lincah. Tak ada seorang pun yang memegang handphone sambil jalan, bila pun ada maka orang itu menghentikan jalannya lalu menyingkir dari tengah, berbeda sekali dengan di Indonesia yang sudah membiasakan diri berjalan sambil memegang handphone dengan langkah yang cenderung santai.

Saat saya mulai mengikuti langkah cepat mereka, saya tetap saya didahului (mungkin karena kaki saya tak sepanjang mereka) padahal orang-orang yang mendahului berjalan membawa ransel yang lebih besar, dengan koper di tangan kiri. Sontak saya sempat berhenti sejenak menikmati atmosfer airport. Baik pria, wanita serta anak-anak berjalan lincah hilir mudik kurang memperhatikan kiri kanan, tatapan ke depan mencari claim bag.

Senin, 22 Oktober 2012

Esmeralda Santiago di Taman Budaya Medan



Taman Budaya Medan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Medan Timur dikunjungi oleh Konsulat Amerika Kathryn Crockart mengundang Esmeralda Santiago.  Ruangan yang berukuran kurang lebih 10x 15 meter menyambut kehadiran dua wanita yang aktif berbahasa Inggris.

Akomodasi dalam diskusi ini sangat sederhana, ada enam kipas angin dilangit-langit ruangan, namun hanya empat saja yang berputar. Saya tidak tahu kapan terakhir kipas angin tersebut dibersihkan. Saya melihat debu pada baling-baling kipas sangat tebal. Baling-baling kipas yang berwarna biru telah berubah warna menjadi warna coklat, begitu juga dengan jeruji bulat tersebut. Warna putih sudah menjelma menjadi warna coklat juga.

Kamis, 04 Oktober 2012

Papuan Prisoner of Conscience Filep Karma in Jakarta for Medical Treatment


Press Release

Jakarta, Indonesia [28 September 2012].

Filep Karma, apolitical prisoner of conscience from Papua, has attended a two-week medical treatment in Jakarta hospital and has returned to Abepura prison in West Papua on Wednesday evening. He arrived in Jakarta on September 14 and took a colonoscopy treatment in PGI Cikini hospital, Jakarta.

Indonesian physicians in Jayapura, who earlier examined Karma with simple equipment, suspected that he has a colon tumor.As it is not possible to conduct a colonoscopy in West Papua the physicians referred him to the hospital in Jakarta.

Karma was imprisoned in 2004 and is serving 15 years in prison for participating in a peaceful independence demonstration and for raising the Morning Star flag, an important Papuan symbol of independence. The UN Working Group on Arbitrary Detention declared him a political prisoner in September 2011, asking the Indonesian government to immediately and unconditionally release Karma. The government, however, denies the existence of “political prisoners” in Indonesia. His injuries were sustained from acts of torture inflicted on him while in prison. He also injured his hip during a falling 2006.


It took nearly six months for Karma to be able to be transferred to Jakarta despite this referral. Abepura prison officials, under the Ministry of Law and Human Rights, have refused to cover cost of his medical treatment and travel. The Indonesian government’s refusal to cover his costs is in direct contravention of national and international law. According to United Nations Body of Principles for the Protection of All Persons under Any Form of Detention or Imprisonment (Principle 24), and Indonesian law (Regulation No. 32/1999 on Terms and Procedures on the Implementation of Prisoners' Rights in Prisons) it is required that all medical costs for treatment of a prisoner at a hospital be borne by the State.

Despite the Abepura prison authorities recently giving permission for Mr. Karma to travel to Jakarta, they still refuse to cover the cost of his medical treatment and travel. Funds have been raised through donations from the Prisoners of Conscience Appeal Fund (London), Rev. Socratez Yoman’s church service (Timika), STT Walter Post (Jayapura) and many individuals.