Senin, 28 Mei 2012

Pertemuan Pertama dengan Pak Atma


  
Suara pria yang mengenakan batik biru dongker terdengar besar. Bila dinilai dari suaranya pria yang ini seperti orang Medan kebanyakan yang terkenal dengan suara yang besar. Setiap ada orang yang menyapanya, pria yang sering disapa “Pak Atma” ini selama menyuguhkan kisah-kisah yang pernah ia alami. Cerita yang aktual.

Wartawan akan menjadi seorang yang senior bila ia mengalami banyak cerita dan menyajikannya serta mengemasnya dengan rapi dalam tulisannya.

Atmakusumah Astraatmadja adalah ketua dewan pers pertama (2000-2003). Setiap peristiwa yang berhubungan dengan dunia jurnalistik masih tersimpan rapi dalam ingatannya dan ia juga menyajikan pada pers mahasiswa dengan tutur yang teratur.

Saat pertama sekali aku menyapa pria bermahkota rambut putih ini, aku menjadi sangat tergugun, kisah yang aku tahu sedikit, ia mengetahui kisah tersebut lebih banyak dan kasus yang kami bahas selalu ia berikan solusi.

Ini kali pertamanya saya bertemu dengan Atmakusumah Astraatmadja. Ketika itu saya memulai pembicaan dan mengatakan bahwa membaca komentarnya di buku yang berjudul ‘A9ama Saya adalah Jurnalisme’ oleh Andreas Harsono.

“Oh ya, tentang apa itu?” tanya Atma.

“Itu pak, tentang wartawan Bersihar Lubis pak, wartawan yang dipenjara karena buat tulisan tentang jaksa.”

“Bersihar! Yang buat tulisan yang menyebut jaksa dungu.”

Ternyata, pembukaan untuk berbicara dengan Pak Atma dengan topik pemidanaan wartawan, karena karya tepat pagi ini. Aku pun mendengar cerita Pak Atma. Ia mengatakan bahwa wartawan jangan dipidana karena karyanya, kan sudah ada hak jawab, kolom surat pembaca. Ia mengatakan bahwa Bersihar dipenjara karena menghina pemerintah. Bersihar dikenakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 207.

Beliau juga bercerita tentang Negara di Timur Tengah yang menjadi kiblat Indonesia sekarang sedang dalam panas-panas. Timur tengah kini sedang menuntut kebebasan berpendapat, pluralisme dan meminta kesejahteraan ekonomi.

Usai bercerita tentang kondisi Timor Tengah yang sedang mengalami gejolak, Atmakusumah kembali bercerita tentang daerah yang pernah menjadi satu bagian dari Indonesia, yakni Timor-Timor. Timor-Timor kini lebih maju dalam hal dunia jurnalistik, karena negara tersebut pada Pasal 310-320 sudah tidak diberlakukan sebagai pidana. Akan tetapi perdata. Dengan denda atau ganti rugi proporsional.

Untuk pria seusia dia, Atmakusumah masih terlihat gagah dengan kemeja batik yang mengantung di tubuhnya. Pria yang berusia tujuh puluh empat tahun ini tidak jalan lamban seperti orangtua umumnya. Saat dia mengatakan usianya sudah mencapai 74 tahun, dalam benakku, seharusnya aku memanggil dia opung. Karena kini opungku yang berusia 75 tahun hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan bantuan tongkat bila berjalan.

Lalu dia kembali bercerita tentang pertemuan UNESCO sewaktu di Australia pada 3 Mei 2010. Dijelaskannya, bahwa pertemuan itu menyerukan agar mendorong pendidikan jurnalisme sejak dini, mulai dari SMA. Selain memiliki ingatan yang kuat, ia juga memiliki selera humornya juga masih sangat kuat.

Ketika  saya, Pak Atma dan beberapa kru Teropong sedang berbincang dengannya, pembicaraan tersebut membuat kami tertawa bersama dan semakin seseorang umurnya semakin banyak, maka suaranya tawanya semakin membahana. Hahahaha….

Tas hitam yang dia bawa berisi kertas-kertas, mulai dari kertas yang berisi tulisan tangan, kertas hasil print computer yang tersusun padat ditasnya dan juga makalah. Dia sempat mengeluarkan buku dan beberapa lembar kertas notes penuh dengan tulisan tangan yang sudah dia berikan point-point untuk bahan ajarnya. Aku juga sempat melihat Pak Atma mengeluarkan satu kantung berwarna hitam, pada bagian bawah kantung tersebut ada liris-liris warna hijau dan merah yang khas, bila saya tidak salah bahan kainnya ini sangat tradisional, melihat dari lirisnya seperti ukiran antara daerah Batak dan Toraja.

Pak Atma merenggangkan tali kantung hitam dan mengeluarkan dua flasdisk. Flasdisk putih dengan pinggiran berwarna biru dia pilih dan putih yang lainnya ia masukkan kembali ke kantung hitam tersebut. Untuk pria seusianya, dia merupakan pria yang sangat teliti.

Saat aku melihat pria ini meletakkan tasnya di atas meja. Tasnya seperti 'bunting' dan aku sudah membayangkan pasti tas ini cukup berat. Namun, ia masih bersemangat meletakkan tali tas dibahunya lalu mengangkatnya.

Usai menyajikan seminar, dia juga bercerita bahwa dia tinggal di rumah bersama istrinya dan seorang cucunya. Pak Atma ingin menyenangkan istrinya dengan membawa oleh-oleh satu Kotak Bika Ambon untuk istrinya.

Ah…. So sweet…

Senin, 07 Mei 2012

Koper Indie


Dear Koper Indie…

Happy May Day for us. May 1st 2012 is moment felt sad, tears, hungry, smile, hug, laugh and love. If you know? It’s very very wonderful.

Seharian bersama Yokko Cesoria Lubis, Sri Wulandari, Ayu Lestari dan Budiah Sari Siregar telah menciptakan sejuta suka untuk melewati sukar bersama. Tertawa bersama adalah yang paling sering kami lakukan ketika mendengar bad news. Dan secara serempak Koper Indie mengatakan bahwa bad news is a good news and good news is a good good news. Tawapun pecah saat bad news di lontarkan ketika diskusi.

Kami adalah wanita!

Disini kami berlajar menghadapi masalah. Bersikap tenang (berpura-pura tenang pun juga sering dilakukan), bersikap sabar (memaksakan diri untuk sabar), menjadi bijaksana dalam keadaan genting adalah hal unik yang sering dilakukan namun tak pernah terpikirkan oleh wanita Koper Indie.

Detik-detik persiapan Koper Indie untuk melaksanakan event “Menulis Kreatif Menghijaukan Kehidupan” semakin dekat. Salah satu persiapan Koper Indie untuk promosi adalah bekerja sama dengan Kiss FM  guna mempublikasikan pada khalayak ramai bahwa acara “Menulis Kreatif Menghijaukan Kehidupan” akan semakin dekat.

Event ini diadakan pada Hari Kamis dan Jumat bertanggal 3-4 Mei 2012. Bertempat di lantai IX Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol. Acara ini terlaksana berkat ide dan semangat wanita-wanita yang hanya bermodal “dengkul”.  Maksud saya dengkul disini ada kemauan, keberanian, kerjasama, kerjakeras. Tekad yang bulat untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Ayu Lestari mengatakan bahwa peserta yang hadir tidak bakal rugi karena setiap orang yang mendaftar akan mendapatkan voucher belajar senilai Rp. 200.000,- dari sekolah kepenulisan Mataniari Publisher.






Bersama Kita Bisa!


Bersama kita bisa adalah kalimat yang sangat familiar kepada kita. Walaupun ada sebahagian orang yang mengatakan bahwa kata tersebut seperti kalimat yang digunakan dalam kampanye ataupun ada pihak yang mengatakan bahwa kalimat tersebut kurang keren, namun inilah kalimat yang menjadi power dalam event Koper Indie.

Kami adalah wanita. Diah, Rinda, Ayu, Fani, Yokko, Wulan dan aku. Kami adalah anggota Koper Indie. Asa kerap kali menegur. Namun putus asa dan rasa ingin balik kanan sering kali menghampiri.

Mungkin bila hanya aku dan kau saja yang mengharapkan event ini terjadi, aku pesimis.
Mungkin bila hanya kau dan dia yang berdoa agar event ini terjadi, aku tidak percaya.
Mungkin bila aku, kau dan dia yang bercita-cita agar event ini terwujud, itu juga dapat terjadi, namun terjadi yang bagaimana?

Dan bila aku, aku dan kita semua yang benar-benar komitmen dalam melaksanakan event ini. And I believed it’s happen!

Untuk mewujudkan impian kita maka dari pengalaman yang aku tahu, kita membutuhkan beberapa hal. Komitmen, pengorbanan, percaya,optimis, tidak mengeluh dan doa. Ini adalah kata kunci yang ada kalanya akan teramat sangat sulit kita lakukan ketika kita dalam keadaan sendiri.

Kata bermuatan positif yang sangat berat kita capai kala kita sendiri. Kata bermuatan positif yang sangat benar meredam emosi jiwa, karena akan ada  masanya kita akan mengorbankan materi, tenaga bahkan perasaan.

Hal yang tidak mungkin kini menjadi mungkin, permasalahan yang tidak bisa dipecahkan bisa diselesaikan. Dan dengan terlaksananya event @bareng Poconggg, aku benar-benar merasakan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Modal awal dalam melaksanakan event ini adalah kegilaan, optimis, tawa, kebersamaan dan uang senilai Rp. 200.000,- Bagi kekuatan manusia, ini tidak mungkin. Apalagi mencari uang puluhan juta dalam kurun waktu seminggu. Dan sangat tidak sulit rasanya bila mendatangkan 700 peserta pada H-2 untuk menghadiri event @bareng Poconggg selama dua hari acara. Dan ingat, kami hanyalah tujuh orang wanita dengan kekuatan terbatas.

Pertolongan tak pernah terlambat. Setiap kali rapat malam, dengan kondisi penghuni tanah sejengkal yang berteriak-teriak, letih sangat lengket dangan tubuh. Helaan nafas sangat dalam masih terngiang di telingaku kala beban menyesak di dada. Saat rapat di malam hari, masing-masing orang memegang kepala masing-masing sambil berbaring, ada yang duduk bersandar di tembok, layaknya manusia yang tak bertulang, ada yang hanya memejamkan mata dan bernafas dengan suara tarikan nafas yang sangat keras.

Ini adalah kondisi yang sangat miris bila kau merasakannya. Benar-benar tidak ada ide malam itu. Aakkhh… Mati lampu. Maklum saja, ketika mati lampu, pasti ada beberapa perempuan yang spontan teriak dalam gelap.

Malam itu kami tidak menghidupkan teplok. Kami lebih memilih diam dalam gelap dan hening. “Tidak relistis ini bila kita laksanakan! Budget kita tidak ada! Lihatlah kemampuan kita, dana kita dan tenaga kita juga!” Pesimis yang sangat mendalam terasa kala rembulan menyinari malam tanpa cahya lampu.

Namun kami lebih memilih untuk menghentikan pesimis dan kembali bertemu esok sambil membawa ide dalam kepala masing-masing. Walapun begitu kami tetap melaksanakan timeline yang tersedia.

Kami masih punya semangat. Bergerak kesana-kesini. Mengantarkan proposal keliling Kota Medan (walau nyasar di siang bolong), mengantar proposal dan untuk kesekian kali ditolak, menjalankan flyer, walau tampak di depan mata, flyer dibuang orang langsung di depan kita.


Benar!

Tak ada yang mustahil, selama optimis masih ada. Maka pertolongan akan datang. Terima kasih kami sampaikan kepada Bank Sumut yang membantu menyukseskan acara Koper Indie.

Batin, event yang Koper Indie laksanakan terlihat seperti tidak realistis kala menjalaninya apalagi bagi kekuatan manusia sangat terbatas dengan berbagai kendala, namun tidak ada yang mustahil selama kita masih berdoa kepada Tuhan kita masing-masing.

Ucapan syukur yang sangat mendalam untuk Tuhan yang kita sebut dengan berbagai nama…
Ucapan terima kasih dari lubuk hati yang mendalam buat Tuhan yang kita sembah dengan berbagai cara. Terima kasih Tuhan. Event ini adalah bukti dari kebaikan hati-Mu…

***
Usai dari event @bareng Poconggg Koper Indie ini, maka pembaca juga harus siap-siap dengan kegilaan dan gebrakkan berikutnya kru Koper Indie.


Novita Sari Simamora

Selasa, 03 April 2012

Filadelfia Choir Selamat Ulang Tahun ke-8

Paduan Suara FILADELFIA Universitas Negeri Medan



Berdiri pada 27 Maret 2004 dan genap pada 27 Maret 2012 berusia 8 tahun. Terima kasih buat segala dukungan kakak dan abang dalam membangun paduan suara kita ini. Saya juga sangat berterima kasih kepada pendiri karena kalian selalu memberikan dukungan dana dan doa pada kami.

Kami yakin bahwa kami tidak sendiri. Kita bisa membangun ini karena kita bersama. Tak ada kata menyerah. Saling menyokonglah kita. Mari kita saling mengingatkan untuk lebih peduli.
Terima kasih buat adik-adik yang telah hadir.
Evi Kristina Ujung, Lusiana Lubis, Mardiana Silaban, Deslina Zebua, Lewi Sidabutar, Jetti Napitupulu, Norita Purba, Dedy Pranata S, Dayni Christmas S, David Hutabarat, Tutwuri Situmeang, Martina H Silalahi, Elsabat Lumbantoruan dan Afriando.
Terima kasih juga buat Kak Ivana Sibuea, Bang Arief Sihombing, Kak Sarma, Kak Mira Sitopu, Kristina Hutabarat, Iyus dan gitaris kita.



 Gambar di atas adalah korban lomba tatarias dari kawan-kawan Paduan Suara Filadelfia Unimed.
Di sayap kiri adalah Dedi Pratana (Juara II, perwakilan dari Bass), Novita Sari Simamora (Juara III, perwakilan dari Sopran II) dan David Hutabarat (Juara I, perwakilan dari Tenor).
Jujur aja nih.... Masa kecantikan aku dikalahkan sama dua orang ini.... hahaha....

Hidup Filadelfia...Yes.....yes.....yes.....

 Ini adalah juri dari segala juri. Juri yang paling tampan adalah Arief S Sihombing, juri yang imoet-imoet adalah Miss Ivana Sibuea dan juri yang selalu berusaha untuk tampil cuantik adalah Miss Sarma. Mereka bertiga didatangkan dari negara terpisah dengan cara yang terpisah-pisah...
 Ini adalah Tut Wuri, korban tata rias dari Sopran I. Kasian kali kau Wuri, yang tadi awalnya cantik dan mempesona, tapi akibat make up dari Sopran I, langsung berubah menjadi.....teng....tereng.....teng.....teng.......




Dan yang tak kalah uniknya, lomba memasak. Coba perhatikan mejanya. Itu apa tuh yang disajikan di atas meja. Bentuknya menakutkan kali.... wuih....cerem.....

"Agar-agar cinta ala Alto..."





Saat lomba Sopran I menyajikan urap dan bubur jagung. Di urapnya ada rasa kincung yang menambah selera, bubur jagungnya manis, jagung dan arenya berpadu menjadi satu.

Dan yang tak mau kalah Sopran II menyajikan mie bihun jagung yang dibuat tanpa bahan pengawet bertema "Nature, awas Global Warming..." Mie yang dibuat dengan ekstra pedas, agar setiap yang makan tahan terhadap global warming.

Tenor menyajikan nasi goreng spesial yang katanya nih bergizi dan e(s) buah tanpa 's'. Manisnya terasa, perpaduan apel, pepaya dan buah lain benar-benar terasa.

Untuk Bass memasak kentang goreng yang dililit sama mie instan. Ini makanan kontra bagi juri. Tapi habis juga toh..... Kan mereka bawa sikit, sama kayak Alto..... haha....haha....

Hati-hati loh.... alto kita imoet-imoet tapi muatannya banyak.....

Rintangan Membuatku Kuat Tanpa Menangis


Persiapan untuk mengadakan event belum juga menampakan hasil. Menjalankan proposal kesana-kesini, melawan teriknya mentari, dikejar-kejar hujan, pakaian pembungkus tubuh basah hingga kering di badan dan makan sekali sehari dengan satu nasi bungkus bagi tiga orang.

Saat menjalaninya terasa sulit, mengesalkan, menguji kesabaran, membuat menarik nafas dalam-dalam, memikirkan win-win solution dan keadaan sulit yang pernah aku jalani ini mengajarkanku untuk tidak menyalahkan siapapun akan keadaan yang terjadi dan yang telah terjadi.

Saat jaket, baju, celana jeans dan dalaman disapa hujan, aku menerima sms dari Budiah Sari Siregar. Pesan itu semakin menambah kebingungan dan mengajak aku tetap tenang dan mencari jalan baru, lokasi pelaksanaan event oleh Koper Indie (Komunitas Perempuan Independent) mulai terkendala di tempat. Tempat yang semula dilobby kini telah berisi selama sebulan. Auditorium Unimed adalah pilihan yang paling tepat bagi kami mahasiswi Unimed, karena medannya telah kami kuasai.

Namun, takdir belum berpihak pada kami. Dan akhirnya Budiah Sari Siregar yang telah kami percayakan untuk melobby tempat, segera mencari tempat. Ballroom hotel dengan kapasitas 1000 orang telah ditemukan namun harganya membuat aku terkejut., 17 juta harga sewa ballroom.

“Itu masih harga sewa Nov, tadi aku udah menghungi managernya dan ia minta proposalnya. Bapak itu ngajak ketemu jam 8 malam di rumahnya,” jelas Budiah yang sering kusapa dengan Diah.

“Ya udah, bagus tuh…” jawabku.

“Aku tadi udah survei rumah bapak itu. Rumahnya dekat kos aku. Tadi aku liat ada anjing di depan rumah bapak itu, aku takut ama anjing, kau kawani aku ya...”

“Ha ha ha… Okelah. Jam 8 kan.. Sip”

Pembicaraan via sms itu mengurungkan niatku untuk pulang cepat ke rumah. Tepat pukul 19.30 WIB, aku langsung bergerak menuju kos Budiah yang berada di Jalan Pahlawan, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Medan Perjuangan. Diah segera membukakan pintu pagar untukku dan berkata “Tadi waktu konfirmasi mau datang, bapak itu bilang besok aja jumpa di hotel. Gak jadi ke rumahnya.”

“Astaga… Gak konsisten kalipun itu manager… Jadi gimana nih… Alasannya?”
“Katanya dia sering pulang terlambat ke rumah… Kau masuk aja dulu…”

Satria Baja Hitamku ku parkirkan di depan pagar putih tepat di bawah pohon Cherry yang sudah berbuah merah. Pembicaraan malam ini, tindakan saat ini akan mempengaruhi hari esok. Kami saling berbagi kisah perkembangan yang telah terjadi, hal-hal yang telah dilakukan dan juga yang belum dilakukan. Bahkan kemungkinan terburuk telah kami prediksikan.

Menjalankan proposal door to door masih belum membuahkan hasil or inkonfirmasi, jadi kami putuskan untuk menjalankan proposal door to door via email, ini cara hemat untuk hemat bahan baker minyak (bbm). Pencarian alamat email dan pengiriman tawaran kerjasama telah kami bagikan ke berbagai perusahaan. Walau dalam kondisi sulit dan bingung kami masih dapat bercengkrama dengan tawa, serasa tak ada beban walau mata sangat kantuk. Rasa lapar sedari pagipun terobati karena roti coklat yang disuguhkan. Saat melaap roti itu, aku sudah tak mengingat bahwa di hari yang sama sudah dua kali badan kena hujan dan kering lagi.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.35 WIB. Email dan Facebook Koper Indie langsung kami sign out. Modem di disconnect. Dan Laptop turn off. Aku langsung pamit pulang menuju Bandar Setia Ujung, karena mamaku sudah menelepon dan bertanya dimana posisiku.

Saat menaiki Satria Baja Hitamku, aku langsung ingat bahwa tangki bensinnya tak akan sanggup untuk perjalanan sampai ke rumahku. Mengisi bensin di Simpang Unimed kini menjadi pilihan terakhirku.

Entah kenapa usai mengisi bensin, aku merasa bahwa sepeda motorku agak sedikit goyang. Batinku menenangkanku dan berkata dalam hati, “Mungkin ini karena belum makan nasi makanya agak sedikit oyong.”

Perjalanan aku lanjutkan dengan memegang stang motorku dan lebih focus untuk berjalan lurus. Namun sepeda motorku terasa berat. Ku berhenti sejenak dan melihat ke bawah. Banku baik-baik saja dan tidak dalam keadaan kempis.

Kini aku tiba di turunan jembatan Unimed, dekat bakaran jagung. Disebelah kiri yang ada hanyalah kebun coklat. Sedangkan di sebelah kananku ada rumah, namun lampu terasnya tidak hidup.

Dan berhenti kembali untu memastikan keadaan banku. Entah kenapa perasaanku kurang enak saat itu. Aku turun dari sepeda motor dan melihat kondisi banku. Sepeda motor yang melintas sangat kencang bila memasuki kebun coklat ini. Aku memeriksa ke bawah, ban depan dan ban belakang, semua masih aman.

Dan aku menaiki sepeda motorku. Berjalan lalu belok kiri, aku benar-benar sadar. Saat masuk ketikungan Lau Dendang, aku tersadar bahwa ban depanku telah kempis. Sudah pukul 23.00 WIB. Tak ada satu pintu rumah yang terbuka. Teras rumah warga sangat gelap. Semua pengendara motor dan mobil melaju sangat cepat seolah hendak segera enyah dari kebun coklat. 30 meter dari lokasi aku berhenti ada kebun jagung.

Gelap. Sunyi. Tak tahu mau minta pertolongan siapa. Hanya bisa mencagak dua motorku, lalu memeriksa ban depan, apakah ada paku atau tidak. Lagi-lagi handphoneku berdering, sengaja tidak aku angkat. Itu dari mamaku.

Ingin rasanya berteriak minta tolong, menangis dalam keadaan genting. Tak ada seorangpun yang dikenal. Tak ada seorangpun yang berhenti dan menolongku. Namun, aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.

Sepasang suami istri berhenti di depan rumah yang terbuat dari papan. Teras gelap. Wanita yang dibonceng menggedor pintu dan memanggil orang yang berada di rumah. Suaminya menunggu di atas sepeda motor matic sambil bepangku tangan menghindari telapak tangan dari dinginnya malam. Seorang anak laki-laki tanpa mengenakan baju muncul di depan pintu.

“Pak…Pak…di daerah sini mana tukang tambal ban pak?”

“Kenapa? Kempis ya? Di dekat jembatan arah mau ke Unimed itu ada dek… Tapi tutup…”

Aku tak tahu mau berkata apa menjelang dini hari dengan kondisi ban kempis di tengah gelapnya malam. Dan aku adalah seorang anak gadis. Saat aku menegur pria itu, terlihat istrinya berhenti melangkah masuk ke dalam rumah dan memperhatikanku. Jaket hitam dan helm yang kukenakan, membuatku terlihat seperti lelaki.

“Jadi dimana lagi yang ada pak?”

“Coba kamu ke arah Simpang Beo. Disitu ada tukang tambal ban.”

“Apa jauh lagi pak? Ban aku sudah kempis kali pak..”

“Rumahmu dimana?”

“Bandar Setia Pak…”

“Oh… Mending arah sana aja, karena itu searah dengan rumahmu. Lagian ban depan yang kempis. Gak apa-apa itu. Bawa jalan aja.”

Hatiku sedikit lega mendengar perkataan itu. “Terima kasih ya pak… Ibu… Yuk bu… Makasih ya bu…” Aku bergegas segera menaiki Satria Baja Hitamku sambil berharap agar angin tidak semakin habis dari ban dalam.

Aku sengaja melaju kencang di kegelapan, mengingat di sebelah kiri kebun coklat dan di kanan kebun jagung. Usai melewati kebun tersbut, aku menemukan satu tempat doorsmeer dan toko itu telah tutup. Tanpa berhenti, aku terus melaju dan melihat ban-ban yang digantung pada tiang warung. Tampak dua pria duduk di depan warung temple ban.

Aku berhenti, berharap, salah seorang diantar mereka berdua merupakan pekerja di tempat itu. Namun harap tak sesuai dengan kenyataan. “Kenapa dek? Kempes ya? Oh… Ke Simpang Beo aja. Belok kiri. Kira-kira seratus meter lagi ada tukang temple ban. Rumahnya disitu dek…”

Sebelum sampai ke simpang beo aku melihat bengkel yang masih buka. Seorang pria sedang membuka busi motor dari motor astrea. “Bang, mau nempel ban bang…”

“Aduh dek… Tempelannya habis pula…”

Tanpa banyak bicara, aku langsung balik kanan. Membawa Satria Baja Hitamku melaju kea rah Simpang Beo. Simpang tersebut disebut orang Simpang Beo karena di simpang itu, tepat dipinggir jalan ada patung Burung Beo yang diletakkan diatas tiang putih, tiang dan patung dengan ketinggian 3,5 meter.

Sampai di Simpang Beo, aku menemukan dua tukang tambal ban telah tutup. Aku berhenti dan menegur seorang bapak-bapak yang mengenakan celana coklat dengan sarung kotak-kotak yang diselempangkan bahunya. “Sekitar 100 meter lagi, disitu ada tukang tempel ban. Kesana aja dek…”

“Baiklah…”

Dan akupun berjalan. Meyakini petunjuk dari warga sekitar Lau Dendang. Dan akhirnya pencarian itu berahir sudah. Aku menemukan warung jajanan yang gandeng dengan tukang temple ban.

Pria berambut menyapaku dan melihat keadaan ban depanku. “Kenapa? Kempis ya?”

“Nggak Pak… Kayaknya ini bocor pak…”

Kepala pentil, segera dilepas. Angin dari ban dalam dikeluarkan. Aku masih saja berdoa agar lubangnya tidak dua. Pria tua itu berumur 62 tahun. Tangan kecilnya memengang dua besi untuk melonggarkan ban dalam. Ia mengeluarkan ban dalam dari ban luar dengan sangat pelan. Perlahan tapi pasti.

Akhirnya ban dalam berhasil dikeluarkan. Ban dalam diisi angin, lalu dicelupkan ke dalam ember hitam yang tidak memiliki bibir ember lagi. Pria beranak delapan itu jongkok memperhatikan gelembung angin yang muncul dipermukaan air.

“Cuma satu lubang…”

Akhirnya aku dapat bernafas lega, setelag meihat keadaan banku. Tukang tambal ban yang sering disapa Uwak Rebu langsung menempel ban depanku. Kembali handphoneku berbunyi. Itu telepon dari mamaku. “Iya Mak… Bentar lagi… Udah di jalan nih…” Lalu HPku langsung kumatikan.

Aku benar-benar tak ingin memberitahukan keadaan itu pada mamaku, karena ia pasti akan memberitahukan pada Bapakku. Itu akan membuat bapakku merepet lalu ia akan khawatir keadaanku. Karena sebelumnya, aku pernah memberitahukan hal itu dan ia langsung merepet lalu berinisiatif untuk menjemput.

Walaupun bapakku jago merepet, tapi bapakku jago masak dan juga baik hatinya.

Kembali ku tanyakan pada Wak Rebu harga tempelannya, “Harganya Rp. 7000,- aja dek. Gak bisa Rp. 6000 ribu. Lagian ini udah malam. Kalau sudah malam harganya biasa Rp 8000,-”

“Uwak udah lama tinggal disini ya?”

“Uwak tinggal disini sejak tahun 1952. Awalnya tinggal di daerah Tuntungan sama orangtua dan kami pindah ke Lau Dendang tahun 1952.”

Pria tua yang telah memiliki 13 cucu ini memberitahu bahwa ia lahir tahun 1949. Saat pertama pindah ke Lau Dendang di tahun 1952,ia mengaku hanya menggunakan lampu sentir yang membuat lubang hidung hitam. “Di depan rumah uwak ini dulu lalang, kebun orang. Pokoknya dulu masa-masa susah dan gelap.”

Uwak Rebu dan keluarga mulai merasakan terangnya listrik pada tahun 1986. Mendengar tahun ia tinggal di daerah Lau Dendang ini, aku mulai tertarik pada pembicaraan pria  tua yang tingginya sekitar 158 cm.

“Dulu zaman uwak tinggal disini masih ngeri kali. Kalau kalian sudah enak, sudah terang kayak sekarang ini. Emangnya udah berapa lama kamu tinggal disini?”

“Masih 10 tahun di Bandar Setia wak”

“Oh… Kalau di Bandar Setis, dulu ada namanya Titi Bambu. Kamu tahu gak itu?”

“Gak tahu wak. Emang dimananya wak. Kalu aku di Bandar Setia Ujung wak”

“Ya di Bandar Setia lah...”

Sambil berbicara, ban dalam sudah dimasukkan ke dalam ban luar. Dipompa, lalu cagak diturunkan. “Walau usia uwak 62 tahun, tapi uwak masih segar ya,. Apa sudah lama jadi tukang tambal wak?”

“Kalau tambal ban, baru aja nih, tahun 2007 lalu. Dulu uwak tukang becak. Untungnya uwak sampai sekarang masih sehat,” ucapnya sambil menggerakkan kedua tangannya ke depan dan belakang dengan senyum yang terlihat jelas kerutan di pipi.

Bola matanya bercahaya.

“Ini ya Wak, 7ribu… Makasih wak.”

Saat aku mengendarai Satria Baja Hitam yang sudah sehat. Kembali mamaku menelepon dan berkata “Udah dimana?” Lalu aku menjawab cepat “Udah dijalan mak. Bentar lagi nyampek.”

Pasti mamaku bertanya dalam hati, dari tadi nelpon jawabannya udah dijalan tapi kok gak nyampek-nyampek. “Bunda, maafkan aku… Aku tak ingin membuat siapapun khawatir. Cukup doakan anakmu ini.”

Sesampaik di rumah, aku melihat mamaku membuka pintu untukku. Mamaku tidak bertanya, kok lama kali tapi dia bilang “Apa udah makan kau?”

“Apa ada makanan mak?”

“Maksudku, biar mindahkan kulkas kita. Kan kau kuat…”

“Ha ha ha…..” aku tertawa sambil membuka lemari yang masih ada ikan dencis dan sayur buncis. Tapi hilang sudah selera makan. Cukup minum saja. Lalu kami berdua, memperbaiki posisi kulkas karena kaki kulkas sudah patah.

Usai memindahkan kulkas, memasukkan isi kulkas yang sempat dikeluarkan lalu masuk ke kamar dan melihat memperbaiki posisi tidur adikku Satria Arya Dao Mara Simamora. Ia selalu tidur dengan kipas yang dekat sekali dengan wajahnya.

Good Night

Novita Sari Simamora

Jumat, 30 Maret 2012

Tikus, Ayam, Kambing, dan Sapi



Di suatu tempat daerah pertanian di Australia. Hiduplah tikus, ayam, kambing dan sapi. Mereka bersahabat. Dan sesekali bermain bersama di pekarangan rumah sang petani. Namun, saat siang sang tikus melihat ibu petani membawa perangkap tikus dan membawa alat penangkap tikus tersebut ke dalam rumah.

“Waduh... Itu alat perangkap tikus, bisa mati aku terperangkap!” batin tikus saat melihat perangkap tikus yang terbuat dari besi itu.

Lalu tikus ingat bahwa ia masih punya sahabat yang tadi pagi ia lihat di pekarangan. Tikus mendatangi sahabatnya, menceritakan kesusahan yang ia rasakan. Tikus mendatangi induk ayam yang sedang asyik mengais tanah, mematok jagung yang berserak di rumput.

“Tolong... tolong... Induk ayam, tolong saya. Tadi saya melihat istri petani itu membawa perangkap tikus dan itu sangat berbahaya bagi saya!” seru tikus.

“Kok... kok... Apa hubungannya dengan saya kok... itukan tidak berbahaya bagi saya. Itukan hanya berbahaya bagi kamu,” jawab ayam cuek sambil mengais tanah.

Tikus hanya terdiam melihat sahabat yang sering ia ajak bermain tidak memperdulikannya bahwa ia dalam keadaan bahaya sekarang. Namun, saat ayam tidak memperdulikan derita tikus, tikus pun bergegas menemui kambing yang berdiri di dekat pohon besar.

“Kambing... Tolong saya kambing... Saya takut. Sekarang saya dalam bahaya,” teriak tikus sambil berlari menemui kambing.

Kambing spontan terkejut mendengar dan melihat tikus yang berlari dari jauh. “Mmbek... Ada apa?”

“Tadi saya baru saja melihat istri petani itu membawa perangkap tikus masuk ke rumah. Tolong saya kambing. Alat penangkap tikus itu sangat dapat membunuh saya.”

“Oh..mbek... It is not my problem! Mbek.. Alat itukan hanya dapat membunuh kamu, tidak berdampak pada saya.”

Tikus bersedih melihat kambing, sahabatnya sendiri  tidak peduli akan nyawa sahabatnya. Perlahan dengan wajah murung, gelisah dan membayangkan kematian berada di depan mata, sang tikus tak putus asa untuk meminta pertolongan pada sahabatnya yang terakhir. Sapi.

Sapi hanya duduk santai sambil memamabiak rumput yang berada di mulutnya. Tikus menapaki langkahnya perlahan, dengan wajah tertunduk dan ia kini berharap pada sapi. Ia menemui sapi dan duduk tepat di depan sapi yang sedang berbaring di rumput hijau.

“Wahai sapi yang baik... Saya dalam kesulitan. Nyawa saya dalam bahaya. Istri petani baru saja membawa perangkap tikus untuk membunuh saya. Saya takut sapi. Tolong saya...”

“Moo... Kamu dalam bahaya ya? Perangkap tikus itu hanya dapat membunuhmu, bukan membunuhku. Tak ada urusannya denganku... moo...”

Malam harinya. Seperti biasa, tikus selalu beristirahat di dalam rumah pak petani dan dalam gelap ia berlari-lari untuk mencari makan. Tiba-tiba saja... Istri petani itu keluar dari kamar dan berjalan walau keadaan ruang tamu gelap.

Sssttt...sstt...pergelangan kaki istri petani tiba-tiba saja dipatok oleh ular yang masuk ke rumah mereka. Tak lama kemudian, petani menemukan istrinya telah terkapar di dekat kursi kayu yang berada dekat jendela. Pria itu menggendong istrinya masuk ke kamar dan mengikat pergelangan kaki istrinya. Wanita yang ia cintai tak juga siuman. Hari hampir subuh. Ia mencari obat maupun makanan yang dapat membuat wanita itu siuman kembali.

Ia ingat akan resep yang diberikan oleh orangtuanya saat ia sakit. Sup ayam. Subuh, petani membuka pintu kandang ayam dan mengambil ayam dari kandang. Lalu ia meramu sup ayam untuk menyembuhkan istrinya.
Hari demi hari, keadaan istrinya juga tak kunjung sembuh. Hari demi hari, tetangga dan saudara berdatangan untuk menjenguk wanita yang terbaring di tempat tidur. Petani kebingungan, apa yang dapat ia lakukan untuk memberi makan puluhan orang yang datang slih berganti.

Ia teringat akan kambingnya. Kambing tersebut ia korbankan untuk memberi makan puluhan orang yang datang silih berganti menjenguk istrinya. Seminggu kemudian, rumah petani tersebut dipenuhi dengan karangan bunga yang bertuliskan “Turut Berdukacita”. Karangan bunga tersebut memenuhi pekarangan rumah petani dan saat istrinya meninggal, ia memutuskan untuk memotong sapi dalam acara pemakaman istrinya.

Bila ada siapapun yang meminta pertolonganmu. Siapapun itu, sekalipun ia orang kecil, jangan pernah katakan bahwa, "permasalahanmu adalah permasalahanmu, bukan urusanku dan tidak akan berdampak pada hidupku. Maka karena ayam, kambing dan sapi tidak menolong tikus dari kesusahan, mereka pun turut direnggut maut."

Novita Sari Simamora

Cerita ini saya dengar dari Ajahn Brahm saat mengikuti ceramah dharma, bazaar buku dan peluncuran buku dari Ehipassiko Foundation, Selasa, 27 Maret 2012 dari pukul 18.30 - 22.00 WIB. Selecta Royal Ballroom lt 5 & 6.

Minggu, 11 Maret 2012

Wanita Berharga…


Bandar Setia,

Bapakku tadi rencananya mau menggunakan sepeda motor matic yang sering aku gunakan untuk pergi merantau selama setengah jam ke lokasi yang dekat dengan rumah. Namun saat aku dapur sedang mengopek udang dengan mamakku, tiba-tiba saja berteriak dan bernyanyi, ”Apa ini kenapa gak ada minyaknnya Nov! Udah sampai ke garis merah “E” pula lagi! Ini matic kalau udah mati, matilah kau!”

Lebih baik tak menjawab dan diam, kan memang sengaja aku kosongkan, karena kalau tangki bensin berisi, pasti ada aja jalan agar sepeda motor yang kusapa dengan Satria Baja Hitam pergi dari rumah.

Aku di dapur bersama mamakku mengopek udang yang tadi sore di beli mereka di daerah Lau Dendang. Setiap sorenya penjual ikan yang juga berprofesi sebagai nelayan kecil sering menjajakan ikan di pinggir jalan Lau Dendang.

Usai mengopek ikan, aku mencuci tangan dengan sabun, beranjak menuju kamar dan mengambil uang Rp. 5 ribu. Aku bersama Satria Baja Hitamku menuju warung Nainggolan, keluar dari kompleks perumahan. Warung itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahku.

Usai membeli bensin, aku melihat wanita berambut lurus hitam sedang memeluk dan berbisik pada pria di atas sepeda motor yang hamper menurunkannya di pokok nangka. Konon, katanya pokok nangka itu ada yang punya loh…

Satria Baja Hitam dan aku sempat mendahului sepasang anak manusia itu. Lalu aku berjalan perlahan. Perlahan. Di depanku hanya ada sepeda ontel yang di kayuh oleh uwak yang mengenakan kemeja coklat bergaris vertikal. Dan akhirnya sepeda motor yang dibelakangku tadi mendahuluiku.

Aku mengenal wanita itu!

Dan aku tidak bergosip ya, ingat aku hanya ingin tahu saja. Pria yang membonceng wanita itu juga sempat memperlambat motornya dan menurunkan wanita yang ia bonceng tepat di depan rumahku. Ah…untunglah cirri-ciri dia tidak sama dengan cir fisikku. Dia berambut hitam terurai, berkulit putih dan tidak setinggiku. Kalau ciri-ciriku kalian pasti tahu dong…

Dalam hitungan detik sepasang anak manusia itu bernegosiasi dan melaju kembali. Pria berkemeja lengan pendek itu tak menurunkan wanita itu di depan rumahku. Untung aku yang lihat, jadi gosipnya tidak meleber. Tapi coba adikku melihat, pasti dia akan bercerita panjang kali lebar sama Mamakku dan ujung-ujungnya pasti merembet ke aku, selalu anak perempuan paling besar di rumah.

“Padahal rumah dia tidak jauh dari rumahku, namun kenapa ceweknya diturunkan di simpang-simpang jalan ya? Kalau laki-laki itu belum berani jumpai orang tua pacarnya, kenapa dia pacaran? Masa wanita diturunkan di pinggir jalan! Ah.. Tidak beres kali,” ucap benak sembari berteriak wanita adalah makhluk yang berharga.

Sampai di rumah, aku kembali mendengar celoteh bapakku. Ku akui dia orang yang gampang mengoceh, dia agak sedikit jabir daripada mamakku. Namun dia itu bapak yang luar biasa, tapi kali ini dia biasa ajalah,karena repetannya membuat aku pengen merepet balik.

Tapi, kalau bapakku pulang kerja, dia sering mengklakson dengan mulutnya.